Kamis, 21 November 2019 |
Wisata & Budaya

Bertandang ke Desa Sade, Desa Adat Suku Sasak NTB

Sabtu, 27 Februari 2016 11:05:21 wib
GM Harian Radar Tanjab, Suheri Abdullah foto bersama Warga Desa Sade

JAMBIDAILY WISATA-Menjaga adat dan budaya secara turun temurun suku Sasak, menjadikan Desa Sade yang berada Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah sebagai salah magnet para wisatawan saat mengunjungi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Keteguhan masyarakat Sasak di Desa Sade dalam memegang adat dan budaya mulai kita rasakan saat memasuki kawasan tersebut.  Pengunjung mulai disambut warga yang menggunakan pakaian adat Sasak dan bangunan khas beratap daun alang-alang.

"Selamat datang di Desa kami pak,"demikian sambut ramah, Udin (23) dengan dialek khas suku Sasak, saat penulis turun dari taxi bersama GM Radar Tanjab, Suheri Abdullah, mengunjungi Desa tersebut, disela-sela mengikuti rangkaian kegiatan HPN 2016, 9 Februari 2016 lalu.

Tak hanya keramahan, sikap melindungi saat penulis menyeberangi jalan untuk memasuki gerbang Desa Sasak menambah kesan tersendiri bagi penulis.

"Saya akan menemani Bapak mengelilingi desa kami, melihat budaya kami suku Sasak.  Saat ini kami merupakan keturunan ke-15, berjumlah 700 Jiwa,"ungkap lajang Sasak ini.

Diceritakan Udin, mengapa hingga kini Desa Sade masih dapat mempertahankan adat dan budaya, karena secara prinsip ada "pembatasan" pernikahan warga desa Sade dengan warga desa lainnya.

"Jika wanita kami menikah dengan orang luar, mereka harus membayar mahar dua ekor kerbau.  Namun jika menikah sesama warga desa Sade, cukup menyiapkan mahar seperangkat alat sholat,"jelas Udin sembari mengajak penulis memasuki sebuah bangunan khas suku sasak yang berlantai tanah mengkilat dan keras seperti semen.

Satu lagi adat yang membuat mereka dapat mempertahankan kemampuan membuat kain khas Sasak, karena setiap wanita suku sasak tidak boleh menikah sebelum mereka mampu menenun kain.

"Wanita Sasak yang akan menikah, harus bisa menenun kain.  Mulai dari memintal kapas menjadi benang, dan menenun benang menjadi kain serta beberapa jenis pakaian lainnya,"tambah Udin.

Tak terasa, suasana adat asli suku Sasak yang saat ini telah disulap menjadi desa wisata di NTB, serta keramahan Udin dalam memberi panduan, penulis merasakan ketenangan dan kenyamanan serta keteguhan Suku Sasak Desa Sade dalam mempertahan adat dan budaya mereka ditengah terpaan globalisasi.  Penulis sangat menikmati bersama Suku Sasak tempo dulu.

Ada hal menarik menjadi pembelajaran penting, setiap rumah suku Sasak memiliki pintu yang rendah.  Siapapun yang akan masuk rumah tersebut harus menundukkan kepala.

"Setiap tamu harus menghormati tuan rumah.  Sejatinya kita harus hidup harmonis, saling hormat menghormati,"tutur Udin memaknai pintu rumah yang sangat rendah tersebut.

Keberanian dan Romantisme Dalam Pernikahan Suku Sasak

Satu hal yang menjadi catatan penulis dari cerita Udin, tradisi perkawinan Suku sasak yang disebut Kawin Culik, yang mengandung nilai keberanian dan romantisme dalam memulai pernikahan.

"Kalau kita sudah saling mencintai, kita culik kekasih kita dan disembunyikan dalam satu rumah yang tidak diketahui pihak keluarga wanita.  Selanjutnya sang pria menghadap orangtua sang wanita untuk mengutarakan keinginannya untuk menikah."

Setelah berbagai prosesi dilalui dengan kesepakatan, dan disepakati pernikahan secara adat, maka pasangan tersebut, akan menempati menempati rumah sementara (bale kodong).   Rumah kecil untuk berbulan madu, hingga dapat membuat rumah yang lebih besar.

"Itu rumah kodongnya pak,"tunjuk Udin memperlihatkan rumah sangat kecil hanya cukup untuk dua orang, berdinding anyaman bambu dan atap ilalang dengan lantai tanah.

Sayang karena keterbatasan waktu, tidak semua sisi kehidupan masyarakat adat suku sasak dapat terekam dengan sempurna.

"Selamat jalan pak, terima kasih kunjungannya ke desa kami,"ungkap Udin yang telah menggunakan bahasa pemandu wisata dengan standard layanan khas pariwisata.(jambidaily.com/*)

Penulis: Hery FR

 

KOMENTAR DISQUS :

Top