Minggu, 22 September 2019 |
Hukum

Dibalik Persidangan Jony NGK Vs Ameng, Ini Ceritanya

Rabu, 27 Januari 2016 19:40:40 wib
Ilustrasi (google.co.id)

JAMBIDAILY PERISTIWA- Diduga ada  kejanggalan pada sidang antara pihak PT Cakrawala Agrindo Kencana (CAK) milik Jony NGK dan pihak Ameng.

Dimana, saat kuasa hukum Ameng diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada Faijan selaku saksi dari pihak Joni NGK, tentang lokasi kejadian tersebut, keterangan Faijan yang disaksikan anggota Hakim, JPU dan warga yang hadir dalam persidangan itu ternyata tidak sinkron dengan BAP polisi.

Faijan dengan tegas mengatakan bahwa, lokasi tersebut di Kelurahan Jembatan Mas. Sedangkan berkas dari penyidik kepolisian menerangkan bahwa lokasi kejadian ada di Desa Lubuk Ruso kecamatan Pemayung.

Mendengar pernyataan dari saksi tidak sinkron, Embong. SH selaku kuasa hukum Ameng, langsung menunjukkan berkas dari kepolisian kepada dewan hakim.

"Coba kita lihat bersama-sama pak dewan hakim yang mulia, keterangan saksi berbeda dengan berkas dari pihak kepolisian. Ini yang menjadi pertanyaan kami, kenapa berkas dari penyidik kepolisian lokasinya tidak sama dengan keterangan saksi,"kata Embong.

Menurut keterangan saksi, galian kanal yang dilakukan oleh anak buah Ameng dengan ukuran kedalaman 2,5 meter, lebar 5 meter dan panjang lebih kurang 40 meter.

Beberapa waktu lalu, pihak PT Cakrawala Agrindo Kencana (CAK) melaporkan Ameng alias Hendri kepihak kepolisian Polres Batanghari. Laporan tersebut terkait kasus pengrusakan lahan sawit yang menurut keterangan pelapor, dilakukan oleh anak buah Ameng.

Atas laporan tersebut, akhirnya pihak kepolisian meringkus empat orang anak buah Ameng. Empat pelaku yang disinyalir sebagai dalang pengrusakan lahan perkebunan milik Joni NGK tersebut yakni, Acok, Saipul, Chandra dan Bambang. Selain menahan pelaku, Excapator milik Ameng juga diamankan sebagai barang bukti.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, kejadian pengerusakan lahan perkebunan sawit milik Joni, yang berlokasi di Kelurahan Jembatan Mas kecamatan Pemayung terjadi sekitar pukul 16.00 WIB pada tanggal 16 Oktober 2015 lalu.

Saat itu, empat anak buah Ameng, membuat kanal (parit) sebagai pembatas tanah dengan tanah milik Joni NGK. Saat melakukan pengerjaan kanal dengan menggunakan alat berat Excapator, tiba-tiba datang Faijan yang notabennya sebagai humas PT. CAK. Menurut Faijan, excapator milik Ameng terkesan sengaja merusak tanaman sawit milik PT CAK. Berdasarkan laporan yang ada, sekitar enam batang sawit rusak akibat tertimbun tanah pembuatan kanal yang dilakukan pihak Ameng.

Ternyata laporan Joni NGK berbuntut panjang hingga ke pengadilan Negeri. Selasa (26/01) kemarin, sidang kedua kasus ini digelar. Sidang yang dimulai pada pukul 13.00 WIB dengan agenda mendengarkan keterangan saksi berlangsung alot.

Pantauan dilapangan menyebutkan, dua Saksi Joni NGK Faijan dan Amin dihadirkan untuk memberikan keterangan. Hakim juga menghadirkan empat pelaku yang diduga dalang pengrusakan kebun sawit. Sidang perdana, Ameng menghadirkan dua orang kuasa hukum dalam kasus ini.

Ameng alias Hendri, saat dikonfirmasi (26/01) di gedung Pengadilan Negeri Muarabulian mengatakan. Tuduhan Joni NGK yang menyatakan bahwa anak buahnya merusak perkebunan sawit, itu tidak benar. Dia menjelaskan, saat melakukan pembuatan kanal, tidak ada sawit disekitar lokasi pengerjaan.

Bahkan, Ameng mengakui tanah yang digali untuk pembuatan kanal murni tanah miliknya bukan milik Joni NGK

"Kanal itu kami gali tujuannya untuk pembatas lahan, antara lahan saya dengan lahan sawit milik Joni NGK. Bahkan, saat anak buah saya kerja tidak ada sawit disana yang rusak akibat alat berat. Kita ikuti saja persidangan, menurut BAP nya ada enam batang sawit yang rusak, kalau itu benar akan kita ganti,"kata Ameng.

Untuk diketahui, dari informasi yang dihimpun, perkebunan PT CAK milik Joni NGK di kecamatan Pemayung hingga saat ini masih belum mengantongi izin perkebunan sawit  dari Pemkab Batanghari, karena masuk dalam kawasan minapolitan.(jambidaily.com/RED)

KOMENTAR DISQUS :

Top