Rabu, 23 Oktober 2019 |
Wisata & Budaya - Profil & Tokoh

Doa Ibu dan Cinta Tanaman, "Surga" Marandus Sirait di Taman Eden 100

Senin, 15 Agustus 2016 11:28:33 wib
Pendiri Taman Eden 100 Marandus Sirait (ft:Lidia Veronica Ginting)

JAMBIDAILY PROFIL-DOA IBUNDA dan Kecintaan menanam pohon itulah kekuatan Marandus Sirait hingga mampu membidani lahirnya sebuah kawasan Agro Wisata Taman Eden 100 di Desa Sionggang Utara, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

"Lebih baik menanam sebatang pohon, dari pada menyimpan sebatang emas didalam lemari,"itulah salah satu "kalimat suci" yang dituturkan Marandus Sirait, kepada penulis bersama 9 Pimpinanan Media-PWI Jambi, saat berkesempatan diterima "Sang Panglima Taman Eden 100" dalam kegiatan Visit Media bersama Asian Agri, 8-10 Agustus 2016 lalu.

Baca Juga : Menapaki Pesona Negeri Bersama Asian Agri

Dalam sesi "Wellcome to Taman Eden 100" penulis dan rombongan yang didampingi Humas Asian Agri Lidia Veronica Ginting dan Head Corporate Communication Asian Agri, Maria Sidabutar, dan stafnya, Elly Mahesa Jenar, mendapat cerita langsung dari penerima penghargaan Kalpataru 2005 itu, bagaimana doa sang Ibu dan kecintaannya terhadap pohon hingga melahirkan Taman Eko Wisata dan juga Agro Wisata seluas 49 Hektar dari warisan tanah keluarganya.

Cerita singkat dengan tutur kata yang runtut, pria yang mengaku hanya tamatan SMP itu, menjelaskan jalan panjang sejak tahun 1998 mendirikan Taman Eden 100 setelah pulang dari berbagai perantauan lebih kurang enam tahun.

"Tanah keluarga ini pernah ditawar pembeli 1 milyar kala ayah saya masih hidup, namun tidak dijualkannnya.  Mungkin inilah maksud sang ayah mewarisi "tanah surga" ini untuk dikelola."

Berbekal pengalaman singkat ditanah rantau, putra terbaik pasangan Lea Sirait dan Tyasa Sitorus ini memiliki "Kalimat suci" baru untuk membangun tanah keluarganya, "Meninggalkan rupiah di kota meraih dollar di Desa."

Entah karena tekad yang membaja dalam memegang "kalimat sucinya (baca-inspirasi)", untuk memulai membiayai taman surganya, lulusan SMPN Lumban Julu ini nekat menjual cincin pernikahan yang pernah disematkan ke jari manis sang isteri tercinta Ernalem Johana Sitepu untuk membeli bibit dan keperluan membuka taman eden.

"Terpaksa kujual cincin pernikahan untuk membeli berbagai bibit tanaman,"kenang Marandus yang saat itu menggunakan pakaian kebesarannya, topi bertuliskan Istana Kepresidenan RI, sepatu boot tinggi  dan kaos yang bertuliskan bahasa batak yang menggambarkan cinta dan doa tulus sang ibu dalam menemani perjalanan perjuangan hidupnya.

Tak urung realisasi kalimat suci "Meninggalkan rupiah di Kota dan meraih dollar di desa" dipertanyakan Ketua PWI Provinsi Jambi, H Mursyid Songsang, yang berkesempatan hadir saat itu.

Dengan senyum, Marandus menjelaskan, meski masih terus berjuang bersama beberapa saudaranya yang membantu kegiatan di Taman Eden, Dollar tersebut mulai mengalir dengan kunjungan 1000 orang rata-rata per bulan.

Menurut pria yang juga penerima penghargaan Wahana Lestari 2010 ini, pemilihan nama Taman Eden 100 ini terinspirasi dari salah satu kalimat dalam kitab suci yang diyakininya, bermakna, Menjadikan hutan sebagai surga yang bermanfaat bagi semua mahluk dan manusia.

"Bukankah negeri kita negeri surga, tongkat kayu menjadi tanaman berkolam susu,"ungkap pria yang saat ini menekuni musik untuk menghibur pepohonan mengutip salah satu hit Koes Plus.

Hmmmm hebat kali kau lae..."Doa ibu dan kecintaanmu pada tanaman telah menjadikan tanah warisan keluarga untuk dapat dinikmati semua orang, daerah dan menambah bagian surga di negeri kita.

Semoga akan lahir Marandus-marandus lainnya yang dapat mengelola negeri surga Indonesia dengan karya-karya besar.

Menikmati Taman Eden 100

Usai menerima penjelasan "Panglima Taman Eden", saatnya kami melakukan observasi langsung ke lapangan (baca: menikmati dan selfi2 he..hee), setiap sisi taman Eden yang membuat jiwa nyaman dan tenang karena di area hijau dengan aneka ratusan jenis tanaman.

Dipandu Topan Sinaga, penulis dan rombongan diperkenalkan dan diperlihatkan sisi-sisi "surga"yang melengkapi taman eden 100, mulai dari Goa Kelelawar, taman konsevasi, jenis-jenis tanaman yang ada, air terjun, hingga taman strobery yang dilengkapi tempat ngopi khas kopi lokal "Lintong ni huta, Gayo, Mandailing dan sidikalang" yang menjadi pilihan penulis dan rombongan untuk menikmati Taman Eden secara utuh (selfi-selfie, nikmati kopi, strowberry dan tuak segar dari pohon he...he.) sebagai pelepas lelah.

Upps hampir lupa, Penulis diberi kesempatan menanam satu pohon dikawasan jalan setapak memasuki taman stroberry, yang mungkin satu saat dapat kembali melihat karya sang maestro "Marandus Sirait" pada waktu-waktu mendatang(*)


Penulis   : Hery FR
Foto      :Lidia Veronica Ginting

KOMENTAR DISQUS :

Top