Selasa, 22 Oktober 2019 |
Nasional

Harga Gabah Naik, Daya Beli Petani Menguat pada Agustus

Selasa, 03 September 2019 11:54:29 wib
Ilustrasi gabah. (ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang).

JAMBIDAILY EKONOMI - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat daya beli petani pada Agustus 2019 menguat. Hal itu tercermin dari angka nilai tukar petani (NTP) nasional pada bulan lalu yang tercatat sebesar 103,22 atau naik 0,58 persen dibandingkan NTP Juli 2019. 

Sebelumnya, NTP merupakan indeks perbandingan harga yang diterima dan biaya yang dibayar petani. Artinya, jika NTP menurun, daya beli petani ikut melandai. Sebaliknya, jika NTP merangkak, daya beli petani ikut menguat.

"Salah satu penyebab kenaikannya (NTP) adalah kenaikan harga gabah dan jagung," ujar Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Senin (2/9).

Berdasarkan pemantauan BPS di 2.214 transaksi penjualan gabah di 30 provinsi, harga gabah petani menanjak pada Agustus 2019. 

Untuk harga Gabah Kering Giling (GKG) Agustus 2019 secara bulanan naik 0,6 persen dari Rp5.277 per kg menjadi Rp5.309 per kg. Secara tahunan, harga GKG juga menguat tipis 0,02 persen.

Kenaikan juga terjadi pada harga Gabah Kering Panen (GKP) naik 3,04 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dari Rp4.618 per kilogram (kg) menjadi Rp4.759 per kg. Namun, secara tahunan, GKP Agustus 2019 merosot 0,36 persen.

Di tingkat penggilingan, GKP secara bulanan merangkak 3,04 persen menjadi Rp4.856 per kg. Harga GKG juga naik 0,71 persen menjadi Rp5.423 per kg. Secara tahunan, harga GKP turun 0,3 persen tetapi GKG naik 0,43 persen

Kenaikan harga gabah dan jagung meyebabkan NTP subsektor tanaman pangan pada bulan lalu mencapai 104,75 atau meningkat 1,1 persen dibandingkan Juli 2019.

Peningkatan juga terjadi pada NTP subsektor hortikultura sebesar 0,3 persen menjadi 103,67. Pemicunya berasal kenaikan harga sejumlah komoditas perkebunan seperti cabai merah dan cabai rawit.

Berikutnya, NTP subsektor peternakan juga meningkat 0,97 persen menjadi 109,72. 

Di sektor perikanan, NTP tercatat menanjak 0,6 persen menjadi 107,3. 

Sementara itu, NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat tercatat merosot 0,43 persen menjadi 93,82.

"Komoditas yang menyebabkan penurunan NTP untuk petani tanaman perkebunan rakyat antara lain adalah penurunan harga karet, kopi, dan kakao," tuturnya.


Harga Beras Naik

Seiring kenaikan harga gabah yang mengerek daya beli petani, harga sebagian besar jenis beras di tingkat penggilingan pada Agustus 2019 juga semakin mahal.

Secara bulanan, harga beras jenis premium naik 0,11 persen apabila dibandingkan bulan sebelumnya menjadi Rp9.530 per kg. 

Demikian pula, harga beras kualitas medium yang meningkat 0,14 persen apabila menjadi Rp9.224 per kg. Kenaikan juga terjadi pada harga beras kualitas rendah sebesar 0,19 persen menjadi Rp8.953 per kg. 

Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, harga ketiga jenis beras juga lebih mahal di mana untuk beras kualitas rendah harganya naik 0,79 persen, medium 0,56 persen, dan premium 0,76 persen.

Di tingkat konsumen, harga beras baik grosir maupun eceran merosot masing-masing sebesar 0,03 persen dan 0,09 persen. Kondisi ini menyebabkan harga beras tidak menyumbangkan inflasi pada Agustus 2019 yang tercatat sebesar 0,12 persen.

 

(sfr/lav)/cnnindonesia.com

KOMENTAR DISQUS :

Top