Selasa, 22 Oktober 2019 |
Jurnal Publik

Hijrah itu Perubahan yang nyata atau lari dari Kenyataan,?

Senin, 28 Agustus 2017 09:00:07 wib

KOPI RAINA-BEBERAPA waktu belakangan atau di masa kekinian, kata hijrah sangat sering terdengar, baik itu di lingkungan sekitar kita maupun di segala jenis Media. Jelang aktifitas, seperti biasa segelas kopi hangat disuguhkan istri saya, naaah saya melayangkan pertanyaan

"Bunda, Hijrah itu apa dipandangan bunda," Tanya saya.
"Gimana ya ayah, luas sekali maknanya jika melihat dari ruang kekinian, kalau bunda mengartikannya Hijrah itu perubahan untuk menuju lebih baik, keimanan, ketaqwaan yang lebih teguh kepada Allah dan lurus atau Istiqomah," Jelas Istri saya.
“oh begitu, naaah kalau yang balik lagi, gimana bunda,?”
“berarti itu niatnya kurang kuat ayah, kalau kata Ust.Diki dipengajian bunda, Jika kita mulai goyah saat Hijrah, kembalikan lagi ke niat awal, ke titik nol,” tambahnya.

Dari penjelasan itu, menimbulkan penasaran bagi saya, apa itu Hijrah, sebelumnya dalam suatu waktu saya pernah ngobrol dengan Ust.Diki yang dimaksud istri saya tadi, dia bercerita tentang seorang temannya, yang menyatakan ingin Hijrah, lalu dalam perjalanan dia sepertinya Goyah. "saya katakan kepadanya, benar kan niat, harus benar-benar teguh, karena ujian saat kita berkata Hijrah itu sangat besar, diuji dan diuji lagi ini bukan suatu tantangan namun itulah masa dimana kita sedang dipersiapkan menjadi pribadi yang lebih taat, Istiqomah hanya kepada Allah," Cerita sang Ustad.

Tidak hanya dikalangan masyarakat umum, beberapa kali saya juga mendengar di Televisi tentang para Selebritis Indonesia yang menyatakan dirinya sedang Hijrah, walaupunn ada juga yang saya amati saat ini kembali lagi ke dunia awalnya.
 
Tiba-tiba Raina memanggil;
“ayah, ada semut api banyak,”
“biarkan saja ya nak, itu semut sedang melakukan Hijrah,” jawab saya.

Lantas apa itu Hijrah, sebagai kata untuk menuju perubahan yang lebih baik lagi atau cuma suatu cara bahkan suatu alasan untuk lari dari kenyataan hidup,?

Dari beberapa bagian diatas saya pikir ada gambaran apa itu Hijrah dan Istiqomah, berarti ketika menyatakan Hijrah, bukanlah segampang mengucapkannya sebab ada Istiqomah disebelahnya. Bahkan ada kalimat yang menurut saya masuk dalam logika “Hijrah itu mudah, yang sulit itu Istiqomah”, mengapa tidak, karena ada yang berpikir bahwa Hijrah itu perubahan yang hanya terletak pada penampilan, misalkan maaf ya ini bukan bermaksud menyindir, cuma misalkan saja, perempuan yang tadinya tidak berhijab menjadi berhijab, lelaki yang tadinya tidak berjenggot menjadi berjenggot, itu tidak salah ada perintahnya, namun dalam Hijrah juga yang utama adalah Imannya, ibadahnya, ketaqwaannya.

Banyak aspek yang terlihat secara kasat mata dari seseorang yang sedang Hijrah, sikapnya, ucapannya, tindakannya baik di masyarakat, di keluarga, dimana saja dan di waktu kapanpun dia akan konsisten terlihat menjadi berbeda. Terpancar kesabaran, keiklasan, keyakinannya bahwa semua dari Allah dan semua telah dalam garisan hidup. 

Seberapa luntur dan bersihnya luar dan dalam anda sehingga hijrah akan berhasil, sebab jika anda masih belum bersih maka akan kembali dalam waktu yang sangat singkat, apalagi jika anda berniat hanya sebagai alasan untuk lari dari kenyataan,?

Contoh jika anda saat ini merasa orang yang sangat berdosa, orang yang berada di dalam hal yang kelam, lalu mempunyai banyak lilitan hutang, atau lilitan masalah, lalu anda berkata Hijrah dan fokus beribadah, tidak ada yang salah dengan ibadah, namun jangan jadikan tameng karena sedang banyaknya masalah. Hijrah itu dahulunya adalah perpindahan karena adanya ancaman secara nyawa dan keyakinan yang terganggu dalam beribadah, anda tidak sedang terganggu dalam hal itu, dan masalah yang ada itu adalah perbuatan anda. Menurut saya selesaikan dahulu, sehingga lebih bersih tetapi tetap beribadah dan memohon petunjuk Allah SWT, sehingga niat Hijrah anda menjadi benar bukan karena Lari dari kenyataan. Waah saya menggurui ya, semoga tidak begitu pemikiran anda, saya cuma mengingatkan saja...

Ada satu cerita lain yang saya dapatkan dan terkait hijrah, ada seorang lelaki berniat akan menikahi perempuan yang dikenalnya dalam Majelis suatu kelompok pengajian, awalnya semua berjalan dengan baik bahkan lamaran sudah dilakukan, hingga pada suatu ketika hal itu dibatalkan perempuan. Permasalahan yang timbul adanya ketakutan si perempuan masa lalunya terbuka atau akan dibuka lelaki tersebut padahal lelaki itu tidak mengetahui apapun latar belakang terdahulu si perempuan, dia mendapati ketakutannya sendiri akan masa lalunya sendiri, padahal dia telah berniat Hijrah dan meninggalkan semua yang dialaminya terdahulu. Sementara saya mendengar dari orang lain bahwa si perempuan dalam pandangannya belum hijrah masih ada kebiasaan dan sikap terdahulu. Ada kesan si perempuan, maaf ya dalam penilaian saya sekali lagi maaf, bukan hijrah yang sebenarnya tetapi melarikan diri dari kenyataan.

“kalau yang cerita barusan bagaimana bunda,?”
“mungkin niatnya perlu diperbaiki, tetapi kita tidak tau yang sebenarnya, hanya dia dan Allah yang tau, kalau pikirkan negatif atau menjudge seperti itu jika tidak benar,? kita malah ikut berdosa,”
“anak muda islam, dimasa sekarang berarti hijrah bisa menjadi jawaban ya bunda,?”
“tentu ayah, Hijrah itu bisa menjadi saringan juga ayah, bagaimana kemajuan zaman, pergaulan yang nyaris tanpa sekat atau pembatas, kebiasaan yang sudah jauh dari agama, kemudian budaya luar yang tidak sesuai ajaran agama kita,” Kata Istri saya.

Hmmm, kalau begitu Hijrah bukan hanya sekedar perkataan saja, bukan sekedar lisan yang anda ungkapkan saja karena menurut saya dengan anda ungkapkan sama saja dengan anda pamer, namun Hijrah lebih pada perbuatan anda, ibadah anda, cukup itu anda dan Allah yang memiliki hubungan. Tetapi, tidak melupakan kewajiban anda selaku seorang anak, seorang suami, seorang istri atau sebagai orang tua. Tantangan ekonomi dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup adalah bagian dari niat hijrah anda, tentu butuh perjuangan karena walau lingkungan tidak berpihak kepada anda, niat anda adalah senjata paling ampuh menjadi pagarnya.

Walaupun begitu sudah menjadi kewajiban kita juga, jika menemui teman atau keluarga yang sedang Hijrah dalam rangka memperbaiki diri, jangan pernah kita hakimi karena masa lalunya namun kita rangkul, kalaupun dia kembali atau goyah jangan juga kita singkirkan atau jauhi tetapi berikan teguran lembut, ingatkan akan niatnya, bimbing dengan sikap dan kata yang hangat bukan lantas Diam dan berubah, itu akan membuatnya merasa tidak dibutuhkan, apalagi itu adalah adik, kakak, suami atau istri anda bahkan orang tua anda. Ingatlah bahwa sebelumnya yang dia jalani bukan waktu yang singkat, bukan juga cara yang mudah, terkadang air mata dan darah mereka alami, terkadang itu bukan untuk kesenangan dirinya cuma demi senyum dan kesenangan orang-orang yang dicintainya, maka dia butuh kelembutan dan bangkitnya rasa percaya diri.

Itu tadi Hijrah dalam pemikiran saya, Agar menambah khazanah pengetahuan naahh berikut ini Saya coba memaparkan Hijrah dan Istiqomah, dari berbagai sumber yang saya ambil, bukan mau menggurui ya, tetapi misalkan ini jadi wawasan yang baik, baik juga untuk saya, hehehehe....


Sejarah dan Pengertian Hijrah

Menurut wikipedia.org, Hijrah (bahasa Arab: هِجْرَة) adalah perpindahan/migrasi dari Nabi Muhammad dan pengikutnya dari Mekkah ke Madinah pada bulan Juni tahun 622.

Pada September 622, terdapat skenario pembunuhan kepada Nabi Muhammad, maka secara diam-diam Nabi Muhammad bersama Abu Bakar pergi meninggalkan kota Mekkah. Sedikit demi sedikit, Nabi Muhammad dan pengikutnya berhijrah ke Yasrib 320 kilometer (200 mi) utara Mekkah. Yasrib kemudian berubah nama menjadi Madinat an-Nabi, yang berarti "kota Nabi", tetapi kata an-Nabi menghilang, dan hanya disebut Madinah, yang berarti "kota" Penanggalan Islam yang disebut Hijriah dicetuskan oleh Ali bin Abi Thalib pada tahun 638 atau 17 tahun setelah peristiwa hijrah. Kota tempat tinggal Nabi Muhammad disebut Madinah dan wilayah sekitarnya disebut Yasrib.

Sebelumnya, pada tahun 9 Sebelum Tarikh Hijriah (613 M) atau tahun 7 Sebelum Tarikh Hijriah (615 M) telah ada peristiwa hijrah pertama dari kaum Muslim yang disarankan Nabi Muhammad untuk menghindari penindasan dari kaum Quraisy di mekkah dengan hijrah ke Ethiopia (Habasyah pada waktu itu), yang dipimpin oleh seorang Raja kristiani, Najasyi. Muhammad sendiri tidak ikut dalam hijrah tersebut. Pada tahun itu, pengikutnya melarikan diri dari suku Quraisy, yang mengirim utusan ke Ethiopia untuk menjemput pulang ke jazirah Arab. Perpindahan baru yang dihadapi berkembang menjadi pertentangan dan penganiayaan. Ketika Muhammad dan para pengikutnya menerima undangan dari orang-orang Yatsrib, mereka memutuskan untuk meninggalkan Mekkah.

Dari sumber lainnya, bahwa Kata Hijrah berasal dari istilah hajara, yang berarti berpindahdari satu tempat atau keadaan ke tempat atau keadaan yang lain. Namun, juga banyak lagi pengertian dari istilah hijrah, tetapi kita akan membicarakandalam empat hal: 

1. Berpindah, atau tidak tinggal di satu tempat

Jika seseorang terkesan dengan apa yang dia dengar atau pelajari (dari ilmu) tetapi tidak melakukannya, dia tidak berhijrah pada yang baru saja dia pelajari. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.” (QS Al Ma’idah, 5: 68)

Yahudi dan Nasrani telah gagal untuk berhijrah dari situasi kufur mereka ke Tauhid, dan akibatnya Allah SWT menyatakan mereka tidak mempunyai apa-apa sampai mereka menerapkan dan melakukan apa yang telah Dia turunkan.

Sama halnya, Muslim juga tidak mempunyai apapun kecuali mereka menerapkan Al-Qur’an (secara politik) dan Islam menjadi jalan hidup mereka.

Ketika Islam dimulai di Mekkah yang sampai akhirnya menyebar ke Madinah pada saat iteraksi (dakwah) Nabi SAW dan Shahabat-shahabatnya RA. (Islam adalah sebuah Dien yang tidak memaksa untuk tinggal di satu tempat, dan juga Dien perbuatan).

Allah menetapkan bagi penduduk Mekkah untuk menolak dakwah dan memerangi RasulNya SAW. Namun, setelah serangan ini, hijrah telah ditentukan dan mereka selanjutnya diwajibkan untuk berpindah.

Masalah yang ada pada Ummat Islam hari ini adalah mereka tidak melakukan apapun untuk merubah kondisi mereka sekarang, walaupun mereka mempelajari Dien setiap hari. Mereka mengetahui apa yang halal dan haram tetapi mereka tidak ingin bergerak dan melakukan atas apa yang mereka pelajari.

Maka salah satu pengertian hijrah adalah berpindah atau bergerak; Muslim selalu berubah (untuk lebih baik) dan bergerak, juga tidak stagnan.

2. Meninggalkan dosa atau haram

Pengerian ini diambil dari sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Abu Daud. Rasulullah SAW bersabda:

“Muslim adalah seseorang yang menghindari menyakiti Muslim dengan lidah dan tangannya. Dan Muhajir adalah orang yang meninggalkan semua apa yang Allah telah larang.” (Shahih Al Bukhari, Kitabul Iman, Bab 4 Hadits No 10)

Maka jika seseorang meninggalkan apa yang Allah telah larang, dia adalah seorang Muhajir. Dan Hijrah masih terbuka (walaupun Rasulullah SAW bersabda setelah menaklukan Mekkah bagi orang-orang untuk tinggal dan meninggalkan apa yang Allah SWT telah larang. 

3. Beribadah kepada Allah pada saat sulit dan fitan

Rasulullah SAW bersabda: “Beribadah pada saat masa harj adalah seperti hijrah kepadaku.” (Shahih Muslim, Hadits No 2948)

Pada saat fitan seperti saat ini, ketika orang-orang bercampur baur; wanita tidak menutupi auratnya; kejahatan disiarkan di internet, televisi dan Radio; musik, alkohol dan hukum kufur yang tersebar luas; orang baik dikatakan jahat, dan orang-orang yang rusak (seperti penyanyi, aktor dan selebriti) dipuji dan membuat aturan model: beribadah kepada Allah pada saat ini seperti hijrah kepada Nabi Muhammad SAW. Pada masa ketika begitu sedikit orang yang jujur; hati orang-orang beriman akan sakit karena dia akan melihat kejahatan dan tidak bisa merubahnya; Muslim yang berbicara akan dibunuh atau ditangkap, dan kesucian mereka yang tetap diam akan terhina; orang-orang akan menangkap yang membuat website, atau mereka akan ditangkap karena membawa uang di kantong mereka atau memelihara jenggot; Muslim yang terpercaya dilabeli sebagai fanatik dan teroris; dan Muslim yang berangkat dari satu negeri ke negeri yang lain dicurigai sebagai teroris: tidak diragukan lagi, ini adalah masa fitnah besar.

4. Bergerak atau menjauhi orang tertentu

Aturan yang mendasar berkaitan dengan Kufar adalah sebuah kewajiban untuk menjauh dari mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah. Allah SWT memerintahkan kita untuk membenci mereka dan menjauh dari mereka, tetapi pada saat yang sama memelihara hubungan dengan kita untuk transaksi dan interaksi dengan mereka (mengajak mereka pada Islam). Allah SWT berfirman:

"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS Al Muzammil, 73: 10) Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku.” (QS Az Zumar, 39, 17)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS An Nahl, 16: 36) Ayat-ayat ini mengkonfirmasi aturan yang sebenarnya berkaitan dengan Kuffar dan Tawaghit; itulah untuk mengatakan, mereka menjadi mengelak. Ini lebih jauh di jelaskan dengan sikap Nabi Ibrahim AS kepada kaumnya dan bapaknya (yang telah kafir). Allah SWT berfirman:

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah.” (QS Az Zukruf, 43: 26)

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (QS Al Mumtahanah, 60: 4)

“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.” (QS Maryam, 19: 48)

Diriwayatkan dalam Sunan Abu Daud, bersumber dari Samurah bin Jundub RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang berkumpul dengan seorang Musyrik dan bertempat tinggal dengannya, maka dia seperti mereka (musyrik).” (Sunan Abu Daud, kitabul jihad no. 2787)

Setelah seseorang meninggalkan kufur dan syirik kemudian memeluk Islam, mereka harus menghindari orang-orang kafir (dan apa yang mereka sembah selain Allah) dan hidup diantara Muslim, atau tidak ada dari perbuatan mereka yang akan diterima oleh Allah. Satu-satunya pengecualian untuk aturan ini adalah istri seseorang dari Ahli Kitab atau orang tua seseorang yang Kafir – memberikan mereka tidak menunjukkan kebencian kepada Islam.

Diriwayatkan dalam Sunan An Nasaa’i bahwa Bahz bin Hakim bin Mu’awiyah RA berkata bahwa kakeknya (Mu’awiyah) meriwayatkan Nabi bersabda:

“Allah tidak menerima semua perbuatan dari seorang Musyrik setelah dia memeluk Islam kecuali dia menjauhi Musyrikin.” (Fathul Bari, Kitabul Jihad)

Salah satu bentuk hijrah adalah berpindah dari daerah kufur (darul kufur) ke daerah Islam (darul Islam). Namun, masalahnya belum ada Darul Islam saat ini bagi semua Muslim yang ingin berhijrah. Saat ini kita mempunyai darul kufur Asiyyah (negeri yang telah ditaklukan oleh Muslim), seperti Eropa; Darul Riddah (Darul murtad, dimana Muslim tidak menerapkan Syari’ah); dan Darul Kufur Taari’ah (negeri Muslim dalam pendudukan), seperti Israel, Spanyol, Iraq dan Afghanistan. Maka dimana kita bisa berhijrah bila semua negeri sama?

Namun, jika sebuah negara Islam diterapkan, Allah akan menghukum mereka yang tidak meninggalkan kuffar dan hijrah kecuali mereka mempunyai alasan yang syar’i. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS An Nisaa, 4: 97)

Sebagaimana mereka tidak bisa berhijrah ke Darul Islam karena itu tidak ada, mereka akan melakukan hijrah ke tempat lain dimana mereka secara umum bisa memenuhi kewajiban mereka. Jika seseorang tidak bisa menyerukan kebaikan dan mencegah kemunkaran, mereka harus berhijrah. Jika ketentuan hanya membolehkan seseorang untuk makan, minum dan berjalan, tetapi tidak memberikan dakwah, menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran, maka mereka harus hijrah ke sebuah tempat dimana mereka bisa memenuhi kewajiban mereka – ini adalah apa yang Shahabat lakukan ketika Hijrah ke Abyssinia.

Buah dari Hijrah (ke Abyssinia) adalah raja kedua memeluk Islam. Telah diriwayatkan oleh Ummu Salamah RAH bahwa ketika Mekkah menjadi begitu sulit bagi Shahabat, Rasulullah SAW menyarankan bagi mereka untuk pergi ke negeri Habashah (Abyssinia) dimana disana ada seorang raja yang tidak zalim. Nabi SAW memerintahkan mereka untuk tinggal disana “sampai Allah memberikan jalan keluar untukmu”. Pada waktu itu, Raja (tidak seperti penguasa saat ini) tidak melarang mereka untuk berdakwah dan mencegah kemungkaran. Shahabat yang dijelaskan suatu hari bahwa mereka memerintahkan untuk beribadah kepada Allah dan menyempaikan kebenaran dimana saja mereka berada.

Namun, hijrah bukan berarti memerlukan berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain. Memungkinkan bagi seseorang untuk melakukan hijrah dari satu kota ke kota lain, atau satu desa ke desa lain – dengan tujuan untuk menjauhi orang-orang yang berbuat dosa. Karena bagi mereka yang lemah, wanita, anak-anak atau mereka yang tidak mempunyai uang atau dokumen perjalanan (seperti passport), mereka harus tinggal sebisa mereka untuk berdakwah dan menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran, walaupun dengan cara do’a.

Allah SWT berfirman: “kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS An Nisaa’, 4: 98-99)

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari bahwa Ibnu Abbas RA berkata: “Aku dan ibuku adalah dari Mustad’afin (orang yang lemah). Aku berada diantara anak-anak dan ibuku berada diantara nisaa’ (wanita).”

Di sisi lain, seseorang mungkin menemukannya perlu untuk hidup diantara Kuffar dengan tujuan untuk mengajak mereka pada Islam. Ini adalah situasi yang ditemukan Nabi SAW di Mekkah. Beliau hidup diantara mereka tetapi berinteraksi dan mengajak mereka pada Islam. Pada saat yang sama, beliau akan melakukan hijrah dari mereka bilamana mereka mengejek atau menghina Kitab Allah. Allah SWT berfirman:

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS An Nisaa’, 4: 140)

Maka ketika Musyrikun mengabaikan atau mengejek ayat Allah, Nabi SAW akan menjauhi mereka. Sama halnya dengan Ashabul Kahfi menjauhi kaum mereka dan melarikan diri ke gua ketika mereka diminta untuk bergabung dan ambil bagian dalam perayaan pagan mereka.

Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad bahwa Khabbaab Bin Al Arat RA berkata: “Aku dulu hidup di Mekkah dan bekerja untuk Al Aas bin Waa’il. Suatu hari, ketika aku mendatanginya dan mengambil upahku, dia berkata kepadaku, ‘Aku tidak akan memberikan upahmu kecuali jika kamu mengingkari Muhammad.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akn mengingkari Muhammad SAW sampai aku mati dan bahkan bangkit kembali. Dan jika aku bangkit kembali, aku akan mempunyai (cukup) kekayaan dan anak.”

Selanjutnya, seorang beriman mungkin menemukan dirinya pada sebuah situasi dimana Kuffar menginginkanya untuk bergabung, meninggalkan Diennya, mencela Syari’ah atau meninggalkan negeri mereka, dan jika dia tidak melakukan yang demikian mereka tidak akan bekerja padanya, atau mereka akan mencabut kepentingannya (kesejahteraan). Pada situasi seperti ini, dia harus meninggalkan dan tidak berkompromi atas Diennya. Memboikot Muslim Hukum asal, hubungan antara Muslim dan non-Muslim adalah bukan persaudaraan; kami tidak bercampur dengan mereka, menikah dari mereka atau berdagang dengan mereka – kecuali ada kebolehan. Namun, ini berlawanan dengan Muslim, dimana hukum asalnya adalah bersaudara. Tetapi dari waktu ke waktu, ada kemungkinan menjadi boleh untuk menjauhi seorang Muslim


Pengertian Istiqomah
jika kita menilik arti Istiqamah dari wikipedia.org, adalah menetapi jalan agama Allah. Menurut sebagian ulama, istiqamah selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, menetapi keimanan dan keyakinan terhadap ajaran dan nilai-nilai Islam. Aplikasi istiqamah dalam kehidupan dengan cara melaksanakan semua kewajiban Islam secara rutin dengan ikhlas, seperti salat, puasa, zakat serta menjauhi larangan-larangan Allah secara total.

sedangkan sumber lain melansir bahwa Para Ulama yang Memberikan Definisi dari Kata Istiqomah, sebagai berikut:

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A: Istiqomah itu tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga.
  • Umar bin Khattab R.A: Istiqomah itu hendaknya untuk bertahan dalam satu perintah atau larangan dan tidak berpaling dari yang lain layaknya seekor musang.
  • Utsman bin Affan R.A: Istiqomah artinya ikhlas.
  • Ali bin Abi Thalib R.A: Istiqomah adalah melaksanakan suatu kewajiban.
  • Dari Ibnu Abbas R.A: Istiqomah itu memiliki 3 macam arti: Istiqomah dengan lisan (Bertahan terus dalam membaca Syahadat), istiqomah dengan hati (Melakukan segala sesuatu dengan niat dan jujur) dan istiqomah dengan jiwa (Selalu melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada Allah secara terus-menerus tanpa terputus).
  • Dari Ar Raaghib: Istiqomah itu tetap di atas jalan yang lurus.
  • Dari An Nawawi: Tetap dalam ketaatan (Kitab Riyadusshalihin). Jadi istiqomah mengandung pengertian bahwa: “Tetap dalam ketaatan dan di atas jalan yang lurus dalam beribadah kepada Allah SWT”.
  • Dari Mujahid: Istiqomah adalah komitmen terhadap kalimat syahadat dan tauhid sampai bertemu dengan Allah ‘Azza wa Jalla.
  • Dari Ibnu Taymiah: Istiqomah dalam mencintai dan beribadah kepada Allah tanpa kearah menoleh ke kanan kiri.

Masih banyak lagi, seperti apa Hijrah, tetapi yang jelas semoga kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi, Semoga Allah meridhoi niat kita, Semoga bermanfaat. Salam Kopi Raina,!

 

 


Penulis : Hendry Noesae
Sumber: wikipedia.org/arrahman.com/tandapagar.com

KOMENTAR DISQUS :

Top