Minggu, 22 September 2019 |
Ekonomi

Kades Kota Kandis Dendang Diduga Monopoli Proyek Dana Desa

Jumat, 23 Agustus 2019 23:44:18 wib
JAMBIDAILY TANJABTIM - Pekerjaan fisik pembangunan Desa yang bersumber dari Anggaran Dana Desa (DD), seyogyanya dalam pengelolaan maupun pelaksanaannya, Pemerintah Desa tetap mengacu pada aturan regulasi yang telah ditetapkan. Salah satunya, dengan melibatkan Pelaksana Pengelola Keuangan Desa PPKD dan Tim Pelaksana Kegiatan atau biasa disebut TPK.

Namun sayang, hingga kini masih ada saja Kepala Desa yang diduga memonopoli sendiri Dana Desa tersebut untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Desa Kota Kandis Dendang, Kecamatan Dendang contohnya, di tahun 2019 ini untuk tahap I membangun dua item jembatan di dua RT yang berbeda masing-masing dengan ukuran 8x2 Meter dengan besaran anggaran per-satu item sebesar Rp 75 juta Rupiah.

Informasi yang didapat jambidaily.com menyebutkan, Kades Kota Kandis Dendang, Imam Barokah, diduga memonopoli anggaran dan pekerjaan proyek dana desa, mulai dari pembelian bahan-bahan material bangunan hingga menentukan tukang dan membayar langsung upah pekerja tukang bangunan Dana Desa tersebut.

Ketua TPK Desa Kota Kandis Dendang, Thamrin saat dikonfirmasi mengakui dalam pelaksanaan Dana Desa, Kades memang ada datang langsung ke salah satu toko bangunan yang ada di Desa Kota Kandis Dendang untuk membeli bahan-bahan material yang diperlukan pada proyek pembangunan Desa.

"Memang ada waktu itu saya lagi tidak berada ditempat jadi Pak Kades yang datang ke toko bangunan itu. Hanya waktu itu setelahnya saya, Pak Kades tidak ikut campur lagi, "katanya.

Dugaan monopoli Kades pada kegiatan Dana Desa tersebut, diperkuat dengan pernyataan kepala tukang yang mengerjakan pembangunan jembatan, Pak Ngainun yang menerangkan bahwa dalam perekrutan pekerja sampai kebutuhan bahan material untuk pembuatan jembatan, dirinya tidak berhubungan dengan TPK melainkan langsung dengan Kades.

"Iya kepala tukangnya saya pak, untuk pola kerjanya saya itu disuruh dengan Pak Kades kerja harian 125 ribu per harinya, dan segala urusan kekurangan bahan maupun upah ya dengan pak kades,"bebernya.

Ia pun membeberkan jika pekerjaan nantinya selesai, Kades tersebut berjanji akan memberikannya uang lebih dari upah yang sudah ditentukan sebelumnya. "Yang penting kata pak kades saya bekerja sesuai dengan bistek gambar yang sudah ada dan kalau pekerjaan ini selesai pak kades berjanji akan memberi lebih lah, ya kalau nominalnya saya juga tidak paham mungkin uang-uang rokok lah,"sebutnya.

Sekdes Kota Kandis Dendang, Husai yang juga menjabat sebagai pejabat PPKD saat dikonfirmasi terkait pelaksanaan pekerjaan dana desa tidak dapat menjelaskan perihal yang dikonfirmasi jambidaily.com pasalnya, dirinya mengaku tidak dilibatkan dalam hal jabatanya selaku Sekdes dan PPKD.

"Saya tidak begitu paham bang, mungkin abang bisa tanyakan langsung dengan TPK nya atau dengan pak kades, karena nanti saya terlalu banyak omong nanti salah, mungkin baiknya abang langsung kesana langsung aja,"ujarnya singkat.

Sementara Kades Kota Kandis Dendang, Imam Barokah dikonfirmasi membantah jika dirinya disebut terlibat langsung dalam pelaksanaan proyek dana desa. Menurutnya, apa yang disangkakan kepadanya tersebut tidaklah benar.

"Saya memang sering berada di lokasi kegiatan dengan maksud supaya kegiatan pembangunan berjalan dengan baik dan saya sering ke toko yang disebut itu maksud untuk memastikan apakah material sudah di pesan oleh tim,"ucapnya (23/8/2019).

Sedangkan saat disinggung, mengenai pernyataan tukang yang mengatakan bahwa dalam pekerjaan jembatan, besi-besi bekas potongan tiang itu digunakan kembali untuk cor lantai dan loneng. Serta tukang pun memperkirakan bangunan jembatan hanya menghabiskan anggaran kurang lebih 40 juta-an. Kades pun bersikukuh membantah pernyataan tersebut.

"Semua itu tidak benar dan semuanya sudah saya jelaskan ke Pak Inspektur Kabupaten Tanjabtim, jadi tolong untuk masalah ini tanyakan langsung dengan pihak Inspektorat,"tukasnya.

Penulis: Hendri Rosta /Editor: Hendry Noesae

KOMENTAR DISQUS :

Top