Senin, 19 Agustus 2019 |
Jurnal Publik

Kampungnya Mualaf Suku Rimba Bernama Kejasung, Negeri Minim Cahaya dan Sentuhan Tangan di Ujung Belantara

Senin, 05 Maret 2018 20:15:27 wib
Kejasung kecil, sungai rengas Kabupaten Batanghari/Foto: jambidaily.com/Hendry Noesae/Randy/Frans

KOPI RAINA - SAHABAT baik saya, menunjukan satu rekaman video pendek, yang entah mengapa ada desiran berbeda dalam diri saya, saat mendengar ucapan takbir oleh anak-anak Suku Anak Dalam (SAD) atau lebih umum bagi masyarakat Jambi dengan sebutan ‘kubu’ bersama seorang ustad di atas bukit, tanah kosong berlatar hutan hijau. Nama lokasi yang belum pernah saya dengar (sambil menggaruk kepala dan berpikir sepertinya saya baru dengar) bahkan saya baru mengetahui sebutan Kejasung. Saya sangat ingin menuju tempat di rekaman video tersebut. 

"ahh...tidak jauh, sebab berada di kabupaten Batanghari, lewat darat dari pusat provinsi Jambi hanya berkisar 2 Jam perjalanan," Pikir saya.

Saya bergegas pulang dan mencari lokasi kejasung di Internet melalui Google berselancar. Penasaran saya semakin memuncak, tidak terdeteksi nama Kejasung, tidak tertuliskan juga di peta 'google maps' hanya beberapa foto dari salah satu lembaga amil zakat nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dari hasil pencarian.

Wah...ternyata ini tempat benar-benar terpencil, bertambah pacuan adrenalin saya agar sampai di lokasi. Dalam bayangan imajinasi, Kopi Raina harus dapat merasakan sensasi dan benturan-benturan emosional akan area itu. Bagaimana warganya,? seperti apa lokasi itu, akses pendidikan, akses kesehatan, akses kebutuhan pokok...(lamunan ditengah malam sambil menikmati kopi) Upzzz...karena tengah malam saya tidak membangunkan Istri untuk menyeduhkan kopi, hehehehehe, anda penasaran tidak kira-kira,? Kopi Raina akan ceritakan dari awal hingga kami pulang menuju rumah.

Akhirnya Kopi Raina mendapatkan tawaran dari sahabat baik, yang telah saya kenal sejak semasa duduk di bangku Sekolah Menengah pertama hingga saat ini. Dia bernama Yudi Bratama, pemilik jiwa petualang dan pencinta ‘adventure’ yang ternyata tidak pernah surut ataupun mereda dari sejak saya kenal dia, walaupun kami saat ini sudah sama-sama menjadi seorang bapak (terlalu memuji gak ya,? Tentunya tidak, karena itulah faktanya).

Lantas Tepat Pukul: 15.00 Wib, sabtu (03/03/18) kopi raina melangkah menuju kejasung namun kami menjemput seseorang terlebih dahulu lalu melakukan pengisian bahan bakar termasuk cadangan bahan bakar, oh iya..saya tidak hanya berdua saja dengan yudi, namun ada Randy, juga seorang bapak yang bekerja di salah satu instansi pemerintahan, lalu Frans, seorang mahasiswa di perguruan tinggi (namun yang satu ini bukan seorang bapak, masih jomblo lho, hehehehehe) serta seorang ustad dari BMH bernama Sholehan. 

“saya juga diberikan gelar oleh teman-teman BMH dengan sebutan Ustad Kubu,” Ungkap Ustad muda, ayah dari 3 Orang anak yang hanya tersenyum saat disinggung berapa usianya.

Kopi raina memulai diskusi bersama Ustad Sholehan (tidak sambil ngopi ya, namanya juga lagi diperjalanan), saya bertanya tentang kejasung, tentang Mualaf disana, tentang BMH, tentang perasaan, suka dan duka dia menjalankan tugas ibadah yang pondasinya karena sang pencipta (tidak ada gaji lho, tidak juga ingin terlihat tangguh namun niat dan iklashnya akan beribadah).

Ustad Sholehan sudah hampir dua tahun bolak-balik menuju kejasung dengan menggunakan sepeda motor, membawa logistik seadanya, juga beberapa keperluan lain sesuai bobot kapasitas. Dia lakukan setiap pekan “saya kesana setiap pekan, biasanya 3 hari disana, 4 hari di Jambi atau sebaliknya dan itu sudah hampir dua tahun dengan sepeda motor,” Cerita Ustad Sholehan. 

Setiap yang dibawanya itu adalah sumbangan ataupun sedekah dari para jemaah BMH, baik itu dalam bentuk uang, terkadang juga makanan. 

“saat saya akan menuju lokasi, tentunya ada kebutuhan yang harus saya persiapkan mengingat jalurnya tidaklah gampang, semua itu sedekah dari para jemaah, tidak hanya uang saja, makanan, sayuran atau lauk pauk, seperti sambal masak, alhamudlillah itu sangat membantu saya ketika akan menuju lokasi. Bahkan Motor yang dipergunakan itu adalah sumbangan dari jemaah di BMH,” Tutur Ustad Sholehan dengan penuh suka menceritakannya kepada kopi raina.

Dalam cerita Ustad Sholehan, mereka kesulitan membawa logistik ataupun kebutuhan ketika menuju lokasi karena hanya menggunakan motor bukan mobil, itu juga salah satu kendala untuk memenuhi rencana BMH membangun pesantren pertama bagi para mualaf suku rimba di kejasung.

“Ustad, mau makan dulu gak kita?,” Sela yudi saat kami memasuki Muara Bulian, karena langit sudah mulai terlihat gelap, namun kata Ustad sholehan nanti saja sambil mengajak berhenti sejenak di sebuah Masjid untuk menunaikan Sholat Maghrib.

Ustad sholehan biasanya menuju kejasung melaui Mersam, rantau gedang menyeberang ke desa Tebing tinggi, untuk kali ini kami membawanya melalui kotoboyo, padang kelapo tanpa menyeberangi sungai Batanghari. Kata ustad, dia tidak mengetahui jalur tersebut dan benar-benar alpa akan wilayah itu. Walaupun begitu dia menampakkkan rasa penasaran dan terlihat ingin mengetahui jalur yang konon lebih ektrem.

Nah...ada Frans disini, dia adalah lelaki kelahiran asli dari Mersam sebagai andalan kami untuk menunjukkan jalur memasuki kotoboyo “saya tau simpang memasuki kotoboyo, nanti kita ketemu simpang PDI,” Katanya penuh meyakinkan (Ehh...ternyata Frans ini cuma mengetahui hingga simpang PDI).

Dia berupaya menelpon orang tua, kebetulan bapaknya bekerja di area simpang pdi, sesampai di lokasi bapaknya, Lelaki paruh baya tersebut menanyakan keadaan armada yang kami gunakan, segala kelengkapan dan kekuatan mobil “ini double gardan ya, ada winch (kerekan, atau seling penarik),” Tanyanya.

Yudi tentunya sudah sangat mempersiapkan semuan, sudah memiliki pengalaman di beberapa lokasi dengan medan ekstrem. Armada yang dibawa memiliki kekuatan 4000CC, daya Winch untuk beban 4 Ton dengan panjang Tali selingnya 20 meter, dilengkapi radio walkie talkie, gps, ban cadangan, pompa angin, senter dan lainnya (merek mobilnya, gak perlu disebutkanlah ya....nanti dipikir promosi produk lagi, hahahaha). Itu dari sisi kendaraan, yang lainnya seperti tenda, selimut, bantal, alat masak serta perlengkapannya, alat makan, bahkan persediaan makanan bisa cukup untuk kebutuhan 7 Hari. Tentunya yudi tidak akan pernah menganggap enteng dalam setiap perjalanan ekstrimnya di alam terbuka.

Setelah berdiskusi beberapa waktu dengan bapak Frans, terkait arah jalur. Bapak Frans menggunkan motor berada di depan kami untuk mengantarkan ke titik simpang pertama. Kami melihat jalan buruk pertama, bahkan bapak frans hampir terjatuh namun dia bisa mengendalikan, lalu berhenti di simpang dimaksud, dan berpisah dari bapak frans. 

“ada apa-apa telpon saya, selagi ada signal kabarkan jika mengalami kesulitan,” Pintanya, “baik pak, insyaallah tidak ada apa-apa,” Jawab Yudi lantas Kami melanjutkan perjalanan, jalur berbatu, mulus, terhampar di depan kami (awalnya ya, selebihnya Wow...)

“Gubrak, Subhanallah...” Ucap Ustad Sholehan saat ada guncangan keras, kami mulai tidak lagi duduk diam, terangkat, tergeser kekiri kekanan, jalur tanah basah, berair, jalur tanjakan, berlobang-lobang besar penuh lumpur mulai tersaji dan menyapa kami yang datang menembus malam. 

Lantas apakah kami terdiam atau kaku,? (tidak yee, kami tetap dengan penuh canda, tawa, namun fokus dan konsentrasi). Saya juga tidak diam saja, turun bersama, melihat situasi jalur, mengecek jalan, keadaan tanah baik kedalaman lumpur maupun pepohonan untuk kemungkinan Winch berperan.

Hal itu selalu kami lakukan sebelum mobil melewati agar waspada kemungkinan terburuk, sebab signal komunikasi sudah tidak lagi terjangkau. Tidak jarang kami berjalan kaki terlebih dulu meninggalkan yudi dan ustad memastikan jalur termasuk jalur buntu (jujur saja, tetap ada rasa takut memenuhi kami bertiga, akan hewan buas atau apa saja). 

Situasi makin menantang ketika berjumpa satu jalur sempit, tinggi dengan kondisi tanah lembut, resiko mobil terbalik sangat besar. Diperparah juga dengan pepohonan yang jauh dan tinggi, namun ketenangan dan pengalaman yudi, mampu mengendalikan mobil berbobot babon tersebut, (kalau dalam kamus besar bahasa Indonesia, Babon berarti indukan, pada umumnya sering digambarkan untuk sesuatu yang besar).

Masalah terjadi, mobil kami mengalami insiden, besi untuk menstabilkan roda belakang patah, itu sangat beresiko patahnya asroda yang pada akhirnya akan menghentikan perjalanan. Kami bisa merayap walau dalam kondisi roda belakang tidak lagi stabil, ditambah suara gesekan besi terdengar keras. Mencekam rasanya mengingat jauh dari bengkel ditengah hutan. Tidak hanya roda belakang, lampu sorot paling atas juga putus kabel, tentu mengurangi pencahayaan jalan untuk kami.

Pergerakan terus berlanjut mengingat kami belum menemukan lokasi yang sesuai untuk beristirahat atau bermalam. Lalu berjumpa simpang tiga, disini kami menemukan signal, (itupun seperti mencari berlian karena susahnya). Simpang ini juga ada satu rumah warga dan kami menanyakan jalur ke kejasung, tanpa berhenti lama kami lanjutkan, tetapi berjumpa simpang membingungkan dan semakin keras suara gesekan besi stabil roda yang pada akhirnya kami memutuskan kembali ke simpang tersebut dan bermalam, saya melihat waktu menunjukkan pukul 01.30 Wib.

Sambil melepas lelah, kami duduk bersama menikmati makan malam dan tidur tepat ditengah jalan dengan atap langit, di simpang tiga yang sangat sunyi dari suara mesin kecuali suara khas hutan tetapi tetap terasa terang karena masih ada sisa purnama menyinari malam kami. (Horor kah,? Iya dong sepi, dan pandangan mata terbatas oleh kabut embun, semua hanya terlihat putih). Kopi raina melanjutkan diskusi dengan ustad sholehan sembari menunggu pagi datang, namun ustad terlihat lelah kami merebahkan badan pukul 03.30 wib, dan terjaga pada 05.45 Wib.

Ketika siang datang, saya bersama ustad melihat-lihat sambil berjalan ke salah satu jalan, ternyata tidak jauh ada Mushola kecil (yang belakangan diketahui bernama Mushola Jawa), sungai kecil mengalir deras dan perumahan warga, kami sempat berbincang dengan salah satu warga. Warga tersebut sangat ramah, kami diajak ke rumahnya serta menikmati segelas teh hangat. Obrolan kami sekitar lokasi dan kehidupan mereka yang berkebun, walaupun beberapa perusahaan besar ada disekitar mereka.

“disini sangat sulit dijangkau, kendaraan roda empat yang memiliki kemampuan saja, disini warga hanya menggunakan roda dua. Kalaupun roda empat itu biasanya komunitas Perbakin yang datang untuk aktifitas berburu,” Ungkap lelaki keturunan berdarah jawa yang tidak menyebutkan nama.

Kemudian saya bersama ustad sholehan kembali menuju tempat kami bermalam, beberapa warga dengan motor yang melintas seperti terheran-heran melihat dan mengetahui kami bermalam di simpang tersebut, apalagi kami bukan bertujuan untuk berburu, bukan juga dari komunitas off road (mungkin ya mungkin mereka berpikir, ini manusia nekat dari mana ya...). Kami lumayan lama di lokasi itu sebab harus memperbaiki lampu dan besi stabil roda belakang yang patah.

Perbaikin stabil roda harus menggunakan Las (ya eyalah...mana bisa besinya di lem pakai isolatif), atas bantuan penghuni rumah di dekat kami bermalam, frans diantarkan ke kampung yang jaraknya 5 kilometer menggunakan motor (tidak jauh jika jalannya aspal). Sementara lampu kami perbaiki sendiri, tepat pukul 13.30 wib (04/03/18) semua selesai diperbaiki dan kami melanjutkan misi untuk berjumpa dengan warga kejasung, rupanya ada dua, kejasung besar dan kejasung kecil, yang kami tuju adalah kejasung kecil. 

Hanya beberapa saat radiator mengalami getaran keras tetapi bukan masalah yang berarti, jalan yang sama masih kami jumpai, Winch kembali berperan.

Sesampainya di desa kejasung kecil, kami ke rumah singgah dari BMH di lokasi juga terdapat satu Mushola, dan tanpak beberapa rumah warga. Kedatangan kami disambut Ali pemuda (20) asal pulau Jawa, Maris (40) tokoh Suku anak rimba di kejasung, Ibu-ibu dan anak-anak mendekat. 

Saat berbincang Maris bercerita banyak tentang sulitnya akses ke kejasung. Kesulitan tersebut berdampak pada minimnya pendidikan untuk anak-anak, jauhnya fasilitas kesehatan, pemenuhan kebutuhan untuk kehidupan sehari-hari menjadi harapan mendasar bagi sekitar 100 kepala keluarga yang bermukim disana.

“ada 50 kepala keluarga yang saat ini terdata dekat dengan daerah ini, tetapi secara keseluruhan ada 100 kepala keluarga sebagai warga desa kejasung kecil,” Jelas Ali.

“kami kalau membeli kebutuhan pokok, membutuhkan waktu setengah hari, dengan catatan jika tidak hujan. Nah, kalau hujan bisa satu hari bahkan harus bermalam di sungai rengas,” Cerita Maris, bapak dari 7 Orang anak tersebut.

“kami sangat berharap bangun jalan, ada sekolahan, tempat berobat, coba lihat saat ini saja anak saya sedang sakit, mengalami mencret (diare) selama seminggu ini,” Sela salah satu ibu yang menjawab pertanyaan kopi raina ketika ditanya harapannya kepada pemerintah akan kelansungan kejasung kecil (jangan tanya listrik, sudah pasti tidak ada di desa ini)

Pesantren yang akan dibangun menjadi sisi penting bagi warga kejasung kecil untuk terpenuhinya pendidikan bagi anak-anak suku anak rimba disana. Sangat terpancar harapan dari Maris realisasi terbangunnya sekolah yang sedang diupayakan oleh BMH. Perlu diketahui biaya tidaklah sedikit, lebih kurang 1 Milliar rupiah.

“paling sedikit 1 Milliar dana yang kita butuhkan, itupun dengan catatan harga beli bahan tidak berubah, sebab perencanaan anggaran biaya sesuai harga beli di tahun 2017,” Ungkap Ustad sholehan sembari menjelaskan upaya yang dilakukan baik swadaya dari anggota BMH juga mengajukan bantuan kepada pemerintahan namun saat ini belum ada titik terang.

Bincang dan pertemuan singkat dan tidak lama itu, memberikan pengalaman berharga. Terutama bagaimana kehidupan warga yang ada di daerah terpencil seperti kejasung kecil kabupaten Batanghari provinsi Jambi.

Kami kembali melanjutkan perjalanan untuk menuju pulang. Kali ini jalur yang kami lewati melalui penyeberangan sungai dengan cara ke desa tebing tinggi, banyak terlihat kebun-kebun (sayangnya kebun sawit milik perusahaan) bahkan juga salah satu lokasi tambang batu bara, sungguh miris padahal ada perusahaan-perusahaan besar disekeliling kejasung kecil, tetapi desa ini masih menjadi ‘negeri hilang’ Negeri Minim Cahaya dan Sentuhan Tangan di Ujung Belantara.

Salam santun untuk semua Semoga bermanfaat salam Kopi dari Raina untuk Jambi,!

 
 
Penulis: Hendry Noesae

**Chatting Via Whatsapp Suaro Wargo jambidaily.com, Bergabung Klik Tautan ini: Whatsaap Group, Galery jambidailyDOTcom

KOMENTAR DISQUS :

Top