Senin, 24 Juni 2019 |
Wisata & Budaya

Keraton Kasepuhan Cirebon yang Multikultural

Jumat, 02 Oktober 2015 21:21:00 wib
Keraton Kasepuhan Cirebon. (Agus TRI/ VIVA)

JAMBIDAILY WISATA-Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan satu dari tiga keraton yang ada di Cirebon. Hingga sekarang, Sultan Sepuh dan keluarganya tinggal di keraton ini.

Hanya saja, tidak seperti Sultan di Jogja yang mempunyai kuasa dalam hal politik, sultan di Cirebon tidak mengurusi politik dan hanya sebagai simbol dalam budaya dan masyarakat.

Begitu tiba di pelataran keraton, rombongan saya langsung dipandu oleh bapak guide yang juga masih keluarga keraton. Kami diajak berkeliling keraton yang luasnya 2,5 hektare ini.

Luas yah meski hanya sedikit yang boleh dimasuki. Beberapa hal saya jumpai sama dengan keraton yang ada di Jogja maupun Solo adalah sama sama punya kereta, bedanya kereta di sini ditarik oleh kerbau. Sama sama punya gamelan dan alat musik lainnya. Sama sama punya barang peninggalan keluarga sultan seperti tandu permaisuri, peralatan makan dan lain lain. Sama sama mistis, If you believe on those things. :p

Keraton Kasepuhan Cirebon
Kereta asli di Keraton Kasepuhan Cirebon
Berhubung istri ke 3 sultan adalah keturunan Cina, tidak heran jikalau sang permaisuri meninggalkan jejak khas budaya Cina yang dapat dilihat dari beberapa design bangunan dan keramik keramik cina yang tertempel di dinding keraton.

Uniknya lagi, beberapa keramik juga didatangkan dari eropa dan gambar dalam keramik merupakan adegan adegan bersejarah yang pernah ada dalam alkitab seperti ketika para hewan harus masuk ke kapal Nabi Nuh seperti di bawah ini :

Keramik Eropa di dinding Keraton Kasepuhan Cirebon

Pasti pada muterin layar buat liat gambarnya yah? hehe Sama! Saya juga begitu sewaktu di keraton. Saya sempat tanya si guide kenapa keramik keramik ini ga dibikin tegak lurus agar memudahkan pengunjung melihatnya. "Nah, di sanalah seninya. Hidup itu tidak boleh monoton. Harus berusaha..berusaha melihat dari sisi pandang lain." kata si guide filosofis.

Selain itu kalau diperhatikan disekitar keraton juga tampak banyak semen yang berbentuk seperti tidak jadi seperti gambar di bawah. Namun kata guide, itu memang begitu menunjukkan batu karang ("Hidup itu harus keras seperti batu karang" katanya lagi) yang juga menunjukkan dulunya keraton ini dekat dengan pantai. Selain itu batu batu karang tersebut menunjukkan eksistensi Gua Sunyaragi yang juga merupakan salah satu icon dari kota Cirebon.

Salah satu dinding Keraton Kasepuhan Cirebon yang banyak keramiknya
Lanjut berkeliling ke belakang, terdapat sebuah sumur air yang konon airnya tak pernah habis dan dipercaya dapat mengabulkan doa kita bila kita mencuci wajah di sini. percaya nggak percaya sih saya nyoba aja. Kalau manjur dan terkabul baru deh saya bilangin yah :)

Berkunjung ke sini, saya sarankan tidak membanding bandingkan dengan keraton di Jogja dan Solo. Memang kalau megah dan terawat, keraton Cirebon ini kalah dibanding keraton tetangga. Begitu tiba di depan keraton ketika saya melewati pintu masuk dan melihat sungai (kecil) yang mengalir tepat di depan keraton, saya hampir mau menutup hidung karena sungai tersebut berbau tidak sedap dan berwarna hitam sehingga membuat kesan pertama yang begitu berharga itu berkurang.

Masuk ke dalam area keraton, tampak sampah berserakan di beberapa tempat dan bahkan ada yang mencoret dinding depan keraton yang jelas jelas adalah harta karun peninggalan sejarah yang berharga. Vandalism oh vandalism! Selama berkeliling keraton, tampak bapak bapak yang membersihkan pekarangan. Beberapa dari mereka menawarkan saya dan teman teman untuk sukarela memberikan uang kebersihan di dalam kotak. Namun usaha ini selalu berulang dan hampir dimanapun. Hm..!!(*/sus)


Sumber:Vlog/traveldiary.com

KOMENTAR DISQUS :

Top