Senin, 21 Oktober 2019 |
Wisata & Budaya

Lestarikan Kearifan Lokal, Keturunan Tanjung Pasir Gelar Jalan Santai 'Tudung Lingkup'

Minggu, 06 Oktober 2019 20:27:33 wib
Dewan Pembina Tobo Tanjung Pasir, Kombes Pol M Edi Faryadi
JAMBIDAILY BUDAYA - 'Tudung Lingkup Bekerobong' yang merupakan kearifan budaya lokal masyarakat Seberang Kota Jambi di zaman dahulu. Dimana pada saat itu apabila anak gadis ataupun ibu-ibu yang hendak keluar rumah wajib menggunakan Tudung Lingkup (tutup kepala yang hanya memperlihatakan mata).

Namun dengan perjalanan waktu kearifan budaya lokal itu sudah sangat jarang ditemui, bahkan tergolong ditinggalkan oleh anak-anak gadis di zaman milenial saat ini.

Guna menimbulkan dan memperkenalkan kembali tradisi itu, Tobo (Keturunan) Tanjung Pasir melaksanakan kegiatan jalan santai tudung lingkup bekerobong Minggu (6/10/2019). Dimana untuk peserta wanitanya wajib menggunakan tudung lingkup dan untuk pria wajib menggunakan baju muslim.

Dewan Pembina Tobo Tanjung Pasir, Kombes Pol M Edi Faryadi mengatakan, diadakannya jalan santai tudung lingkup ini bertujuan untuk melestarikan budaya di Tanjung Pasir yang secara turun temurun.

"Kita akan terus melaksanakan kegiatan seperti ini setiap tahunnya. Agar tradisi dan budaya yang ditinggalkan oleh nenek moyang dahulu tidak tergerus oleh zaman," ujarnya.

Sementara itu Ketua Tobo, H Kemas Syahrannizar menjelaskan ciri khas tudung lingkup bekerobong ini di zaman dahulu selalu dipakai oleh para wanita yang telah memasuki kategori anak gadis dan ibu-ibu apabila hendak keluar rumah.

"Dulu dikenal dengan tudung lingkup, kalau sekarang orang menyebutnya jilbab atau hijaber," katanya.

Lanjutnya, namun seperjalanan waktu dan perkembangan zaman tradisi itu semakin tergerus. Dengan moment inilah pihaknya akan mengangkat kembali kearifan budaya lokal itu. "Sesuai dengan seloko yakni Membangkitkan Batang Terendam," ucapnya.

Ditambahkannya, untuk kain yang dipakai sendiri tidak mesti harus kain khas Jambi, tetapi harus berjumlah dua yang digunakan untuk menutup kepala dan muka. Sehingga para wanita hanya melihatkan matanya saja. "Kalau di zaman dahulu ada dinamakan kain begigit atau kain dua," pungkasnya. (Wan/Hen)

KOMENTAR DISQUS :

Top