Minggu, 25 Agustus 2019 |
Suaro Wargo

Linda Mustika: Ada Sesal di Hati, Belum Mengucap Maaf pada Ibu untuk Terakhir Kali

Sabtu, 01 Juni 2019 04:03:19 wib
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Berawal dari telepon ibu di suatu malam di pertengahan tahun 2015. Ibu memberitahu kalau habis memeriksakan diri dari dokter dan dinyatakan mengidap penyakit kanker payudara. Aku kaget dan terhenyak, piikiranku berkecamuk dan dadaku berdegup kencang mendengar ibu menceritakan hasil pemeriksaan dokter tentang penyakit yang mengerikan itu. Bagaimana mungkin secepat itu ibu terkena sakit kanker payudara, sedangkan ibu tidak pernah mengeluh sebelumnya?

Saat aku menanyakan ihwal sakit ibu, ibu mengatakan kalau memang agak lama ada benjolan kecil di payudara yang tidak dihiraukan oleh ibu namun ternyata dalam rentang waktu yang berjalan benjolan tersebut semakin membesar dan membuat ibu harus memeriksakan diri ke dokter. Bahkan sampai dokter menyarankan ibu untuk menjalani operasi karena dikhawatirkan kanker akan menyebar ke bagian tubuh yang lainnya.

Aku tak sanggup menahan air mataku yang jatuh berlinang mendengar penjelasan ibu, ada rasa sedih di sudut hati. Kudengar suara ibu yang tegar saat menceritakan tentang sakitnya dan bahkan menghiburku untuk tidak sedih memikirkan sakit ibu. Ibu juga mengatakan kalau siap untuk menjalani operasi sesuai saran dokter yang kalau ibu menyetujuinya akan dilaksanakan seminggu lagi.

Untuk beberapa waktu aku hanya terdiam tanpa mampu untuk berkata apa pun. Tapi aku juga langsung sadar, aku harus memberi semangat kepada ibu. Ibu tidak boleh tahu kalau aku sedih mendengar kabar tentang sakitnya. Akhirnya aku mengatakan kepada ibu kalau aku dan Mas Yus, akan siap membantu ibu untuk kesembuhan sakitnya. Aku dan Mas Yusuf serta kedua anakku memang tinggal di lain kota dengan tempat tinggal ayah dan ibu.

Hingga seminggu kemudian ibu menjalani operasi kanker payudara, tetap kulihat ketegaran dalam diri ibu saat memasuki ruang operasi di sebuah rumah sakit yang baerada satu kota dengan rumah ayah dan ibu. Tak kulihat kesedihan, ketakutan atau kecemasan ibu dalam menghadapi operasi. Ibu memang hebat. Ibu yang kutahu selalu tegar menghadapi kehidupan dengan beragam kisah. Aku bersama bapak menunggu ibu menjalani operasi. Mas Yus tidak bisa ikut karena bergantian izin kerja denganku. Anak-anakku juga tidak bisa ikut karena masuk sekolah.

Selama menunggu, tak henti kupanjatkan doa kepada Tuhan memohon kelancaran dan kekuatan ibu dalam menghadapi operasi. Selalu kulihat pintu ruang operasi, berharap dokter segera keluar dari ruangan operasi. Hingga setelah sekian lamanya aku dan bapak menunggu, dokter keluar dari ruangan operasi serta menyampaikan bahwa operasi ibu berjalan dengan lancar dan ibu masih di ruang pemulihan. Lega rasanya mendengar penjelasan dokter. Semoga ibu lekas sembuh, tulus pintaku dalam hati kepada Tuhan.

Setelah menjalani operasi kanker payudara, ibu kuajak ke rumahku agar ibu bisa beristirahat dan lekas sembuh tanpa melakukan rutinitas aktivitas sehari-hari. Aku dan Mas Yus akan membantu ibu untuk pemulihan ibu pasca operasi. Tapi ibu tidak mau dan ingin pulang ke rumah bersama ayah. Aku bisa memaklumi keinginan ibu dan tidak bisa memaksa. Aku lebih sering telepon ke ibu untuk memantau keadaan ibu. 

Segala Upaya Dikerahkan
Aku juga sering browsing di internet tentang sakit ibu dan obat alternatif yang bisa dikonsumsi ibu selain obat dari dokter. Aku ingin ibu benar-benar sembuh dan tidak terjangkit sakit kanker lagi. Aku tidak ingin ibu menjalani operasi lagi. Kuabaikan rasa lelahku setelah seharian bekerja demi mengantar obat alternatif yang kucarikan agar bisa segera diminum oleh ibu.

Selain dari internet, informasi dari teman-temanku tentang obat alternatif untuk sakit ibu sebisa mungkin kudapatkan dan kuberikan kepada ibu. Entah itu obat yang diperoleh dengan cara membeli atau mengolah sendiri yang berupa kapsul, pil, atau cairan yang berasal dari hewan atau tumbuhan tertentu. Beruntung ibu tahan dengan rasa pahit atau rasa tidak enak lainnya saat meminum obat alternatif yang ada.

Waktu terus berjalan dan tiada henti kupanjatkan doa untuk kesembuhan ibu dari sakit. Hingga di suatu hari, sekitar satu tahun setelah ibu menjalani operasi kanker payudara, ibu meneleponku dan memberitahu kalau tumbuh lagi benjolan di payudara dan dokter menyarankan ibu untuk menjalani operasi pengangkatan benjolan itu. Lagi-lagi aku terperangah dan tidak bisa berkata atau berbuat apa-apa.

Aku mendukung dan memberi semangat agar ibu sabar serta kuat menjalani operasi yang kedua. Aku tahu, dukungan dan semangat sangat dibutuhkan ibu saat vonis dokter menyatakan ada benjolan lagi di payudara dan ibu harus menjalani operasi lagi. Rasa yang sama kurasakan lagi saat aku menunggu ibu menjalani operasi yang kedua. Dalam suasana yang seperti ini, aku hanya bisa pasrah dan tak henti berdoa memohon kekuatan dan kesembuhan untuk ibu.

Setelah menjalani operasi lagi, ibu tetap minum obat alternatif selain obat dari dokter. Aku tahu mengapa ibu tetap mau minum obat alternatif seperti sebelumnya, seperti yang pernah ibu sampaikan dalam sebuah kesempatan bersamaku, bahwa ibu ingin sembuh dari sakit kanker. Aku tahu itu. Aku juga ingin ibu sembuh.

Maafkan Aku, Ibu
Aku dan Mas Yus terus mengupayakan pengobatan alternatif untuk ibu. Aku tak peduli dengan harga pengobatan alternatif yang kadang terbilang cukup mahal. Yang terpenting ibu lekas sembuh dari sakit kanker, apa pun kulakukan untuk mengusahakan pengobatan untuk ibu selain pengobatan medis. Selain obat alternatif yang diminum, aku juga mengupayakan beberapa pengobatan alternatif lainnya. Seperti pengobatan sengat lebah dengan kondisi bagian tubuh yang sakit tertusuk atau tersengat lebah. Aku pernah sekali mencoba pengobatan alternatif sengat lebah saat lenganku terasa pegal dan sakitnya minta ampun. Untuk berikutnya aku tidak mau lagi menjalaninya karena aku tidak tahan dengan rasa sakit yang kualami saat disengat lebah. Sebenarnya aku iba melihat ibu yang sering merasakan sakit saat menjalani pengobatan sengat lebah ini, namun ibu sanggup dan rela menjalaninya demi keinginan yang kuat untuk sembuh.

Atau pengobatan alternatif untuk kesehatan yang juga pernah dijalani ibu dalam rangka kesembuhan ibu dari sakit kanker. Ibu merasakan pusing dan sakit di sekujur tubuh saat ada obat yang dimasukkan ke bagian tubuh atau ada alat yang diletakkan di bagian tubuh ibu. Ibu juga merasakan kepanasan saat harus menjalani mandi uap sebagaimana urutan tahap-tahap dalam pengobatan tersebut. Aku sebenarnya tidak tega melihat ibu merasakan sakit. Semua ibu jalani dengan tabah demi mendapatkan kesembuhan.

Selama menjalani perawatan kesehatan baik secara medis maupun alternatif, ibu menjalani operasi di payudara sampai enam kali akibat benjolan yang hampir setiap tahun tumbuh. Dokter menyatakan kalau benjolan itu jenisnya mudah tumbuh dan harus diangkat melalui operasi agar tidak menyebar ke bagian tubuh yang lain. Ibu pasrah menghadapi kenyataan sakit ibu serta ikhlas dalam melakukan kontrol kesehatan. Ibu terus mengosumsi serta menjalani pengobatan alternatif selain minum obat dari dokter.

Sampai ibu menyerah pada tahun 2012 saat sel kanker telah menyebar ke tubuh ibu dan membuat ibu kehilangan kesadaran. Aku menjaga ibu selama dua minggu di rumah sakit hingga akhirnya Tuhan memanggil ibu ke haribaan-Nya. Keikhlasan ibu dalam menjalani pengobatan kanker mengajariku untuk ikhlas melepas kepergian ibu di sisi Tuhan walau air mataku terus berlinang melihat ibu memejamkan mata untuk selama-lamanya.

Maafkan aku, Ibu. Aku telah membuat ibu merasakan pahit atau rasa tidak enak yang lain saat minum obat dan merasakan sakit saat menjalani pengobatan alternatif sebagai upayaku untuk mendapatkan kesembuhan ibu. Kalau pada akhirnya ibu harus pergi memenuhi panggilan-Nya, aku ikhlas dan doaku selalu mengalir untuk ibu. Walau sampai kini ada sesal di hati karena aku belum mengucap dan meminta maaf kepada ibu. Semoga ibu tahu dengan apa yang telah kulakukan untuk ibu, tiada lain karena aku menyayangi ibu dan aku ingin ibu sembuh. Sekali lagi, maafkan aku, Ibu.

 

Ditulis Oleh: Linda Mustika Hartiwi - Banyuwangi
(fimela.com)

KOMENTAR DISQUS :

Top