Jumat, 19 Juli 2019 |
Pendidikan & Teknologi

Memaafkan Pengkhianatan Tak Semudah Melupakan Sakit Hatinya

Minggu, 23 Juni 2019 09:31:28 wib
Melupakan kesalahan itu lain soal./Copyright shutterstock.com

JAMBIDAILY PENDIDIKAN - Disakiti dan dikhianati oleh orang yang paling kita cintai, pasti pedih rasanya hati ini. Berjuang untuk bisa benar-benar move on pun tak mudah. Bisa butuh waktu yang cukup lama untuk bisa membuat hati kembali tenang. Tidak mudah untuk berkata diri kita baik-baik saja sementara masih ada luka yang masih menganga.

Untuk kebaikan dan kebahagiaan kita, kita bisa saja langsung memaafkan dia yang telah mengkhianati kita. Pria yang dulu sangat kita cintai sudah berubah menjadi orang yang telah melukai. Memaafkan kesalahannya mungkin bisa kita lakukan. Tapi untuk melupakan luka dan rasa sakit hati yang sudah ia torehkan itu lain soal.

Sikap kita mungkin tak lagi sama terhadapnya. Kita bisa saja memaafkannya tapi untuk menerimanya kembali seperti sedia kala bukanlah hal mudah. Luka kita perlu waktu untuk sembuh. Perasaan kita butuh waktu untuk bisa kembali baik-baik saja. Hal ini pun sebenarnya wajar sebab kita pun tetaplah manusia biasa yang punya hati.

“I’m not crying because of you; you’re not worth it. I’m crying because my delusion of who you were was shattered by the truth of who you are.” – Steve Maraboli

Memaafkannya merupakan langkah awal yang perlu kita ambil. Setidaknya kita sudah melepas satu beban yang ada di benak kita. Tak ada lagi dendam yang tersimpan di dalam dada. Tapi belum tentu segalanya akan membaik dan kembali seperti sedia kala. Melupakan kesalahan dan rasa sakit hati itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

“Life has taught me that you can’t control someone’s loyalty. No matter how good you are to them, doesn’t mean that they will treat you the same. No matter how much they mean to you, doesn’t mean that they’ll value you the same. Sometimes the people you love the most, turn out to be the people you can trust the least.” - quoteambition.com

Kesetiaan itu mahal harganya. Begitu sudah ternoda dan terluka, hati ini tak lagi sama. Sebelum dia benar-benar memperbaiki sikapnya dan menebus kesalahannya, rasanya sangat sulit untuk melupakan kesalahan yang ia perbuat. Mungkin kita akan tersenyum sat bertemu dengannya tapi hati ini belum benar-benar lapang menyambutnya.

Bisa jadi memang saat ini yang terbaik adalah menjaga jarak. Jangan sampai terjebak dalam jeratannya kembali. Dikhianati memang tak bisa membuat kita merasa baik-baik saja. Tapi bukan berarti itu membuat hidup kita berakhir begitu saja.

“If you’re betrayed, release disappointment at once. By that way, the bitterness has no time to take root.” – Toba Beta

Tapi kita tetaplah berhak untuk bahagia. Walau mungkin kita belum sepenuhnya bisa melupakan pengkhianatan dan luka yang sudah dia torehkan, kita masih punya waktu dan kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Relakan saja yang sudah berlalu. Ambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman yang ada. Kini, fokuslah untuk menjalani hidup yang lebih baik.

Kita tak punya kendali penuh atas kehidupannya. Biarlah dia yang menanggung akibat dari perbuatannya. Daripada terus menyalahkan sesuatu yang telah lewat, lebih baik kita mulai menata dan merancang hidup yang lebih baik ke depannya.

 


(fimela.com)

KOMENTAR DISQUS :

Top