Senin, 24 Juni 2019 |
Suaro Wargo

Nining Sani: Budaya Jambi Tempo Dulu dan Sekarang

Jumat, 18 Mei 2018 17:38:58 wib
ilustrasi/Rumah Adat Jambi
JAMBIDAILY SUARO WARGO – Sejarah mencatat, Provinsi Jambi sudah ada sejak ratusan silam. Penduduknya di dominasi oleh Etnis Melayu. Melayu, dalam berbagai suku. Ada suku Kerinci, suku Bathin, suku Bangsa Dua Belas, Suku Penghulu dan Suku Anak Dalam (kubu), ditambah etnis pendatang seperti Jawa, Bugis, China, Aceh, Eropa, Turki, India, dan keturunan Arab.
 
Jauh sebelum abad Masehi etnis Melayu telah mengembangkan suatu corak kebudayaan Melayu Prasejarah di wilayah pegunungan dan dataran tinggi. Masyarakat pendukung kebudayaan Melayu Prasejarah adalah suku Kerinci dan suku Batin. Orang Kerinci di perkirakan telah menempati Caldera danau Kerinci sekitar tahun 10.000 SM sampai tahun 2000 SM. Suku Kerinci dan termasuk juga suku Batin adalah suku tertua di Sumatera. Mereka telah mengembangkan kebudayaan batu seperti kebudayaan Neolitikum.
 
Padamasa kebudayaan Buddhis sedang mengalami kemunduran sekitar abad 11-14 M, maka bersamaan waktunya di daerah Jambi mulai berkembang suatu  corak kebudayaan Islam. Kehadiran Islam diperkirakan pada abad 7 M dan sekitar abad 11M. Islam  mulai menyebar keseluruh lapisan masyarakat pedalaman Jambi. Dalam penyebaran Islam ini maka pulau berhala dipandang sebagai pulau yang sangat penting dalam sejarah Islam di Jambi. Karena sejarah mencatat bahwa dari pulau berhala itulah agama Islam disebarkan keseluruh pelosok daerah Jambi. Kehadiran Islam ini membawa perubahan mendasar bagi kehidupan social masyarakat Melayu Jambi. Agama Islam pelan-pelan tapi pasti, mulai mengeser kebudayaan Melayu Buddhis sampai berkembangnya corak kebudayaan Melayu Islam.
 
Perjalanan sejarah, jelas mengilhami Etnis Melayu, sebagai latar belakang, kokoh dan kuatnya Adat Istiadat Melayu Jambi hingga sekarang. Kendati, dalam kurun waktu, menjadi budaya yang bersifat dinamis akan perubahan. Bahkan mungkin hilang ditelan bumi. Muncul, berkembang dan redupnya suatu kebudayaan sangat tergantung pada faktor internal dan eksternal. 
 
Faktor internal berkaitan dengan sikap pendukung kebudayaan itu sendiri. Sementara factor eksternal berhubungan dengan penetrasi kebudayaan luar. Bisa disebabkan oleh pengaruh budaya luar, atau mungkin juga, kita lupa akan kesadaran masyarakat, dan lemahnya jiwa budaya dikalangan para generasi sekarang. 
 
Mungkin juga, “orang tak kenal Jambi”. Mungkin juga orang bertanya, “ dimana Jambi ?”. Bahkan lebih herannya lagi ketika kita bertemu dengan orang-orang di luar Sumatera, dirinya malah bertanya, “Jambi tudimana ? “. 
 
Ketika berkaca kemasa lalu dan membandingkannya dengan keadaan masakini, orang-orang Melayu kemudian menyadari bahwa mereka sebenarnya, dalam tataran tertentu, telah cukup jauh meninggalkan bahkan melupakan akar kebudayaannya. Mereka telah menjadi kelompok marjinal, bahkan di negeri sendiri. Dari situ, kemudian muncul keinginan dan kesadaran baru untuk memperhatikan dan menghidupkan kembali kebudayaan Melayu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Perhatian dan keinginan tersebut tidak hanya dilatari oleh nostalgia dan romantisme masa lalu, tapi juga disebabkan oleh adanya kesadaran dan pengetahuan tentang keagungan dan keluhuran budaya Melayu tersebut. Untuk itulah, aspek-aspek mengenai kebudayaan Melayu, seperti pandangan hidup, adat istiadat, bahasa dan sastra perlu diaktualisasikan kembali dalam kehidupan sehari-hari. 
 
Kebudayaan modern menimbulkan perubahan di berbagai aspek kehidupan dengan tingkat kecepatan yang mengejutkan. Perubahan itu dipicu oleh kecepatan pertukaran informasi yang disajikan setiap detiknya oleh televisi, radio dan media-media lain (Adeney, 2004). Media-media informasi itu mengaburkan batas-batas fisik dan budaya sehingga menciptakan dunia baru dengan batas-batas wilayah dan nilai yang bersifat relatif. Proses perubahan terpenting yang melanda masyarakat Melayua dalah perubahan cara berpikir dan cara memandang dunia.
 
Tidak ada salahnya, kewajiban perlu dipersembahkan untuk mengenalkannya. Kendati lewat media. Untuk mengungkap, atas ketidaktahuan, bahwa Jambi juga mempunyai banyak hal- hal menarik yang dapat dijadikan “sebuah karya” seperti Film “Sekola Rimba” yang diangkat dari catatan buku, Butet Manurung, atas perjuangannya menjadi “Bu Guru” dari Anak-Anak Suku Pedalaman, yang menetap dan bermukim di kawasan Bukit Dua Belas, Provinsi Jambi. 
 
Berdosa, kiranya bila tidak peduli dan melestarikan budaya “kampung sendiri”, dan amat disayangkan bila kita tidak tahu akan “diri dan asal sendiri”. Suatu kebanggaan, Provinsi Jambi memiliki nama besar dan pernah Jaya dimasa “silam” dengan bendera Kerajaan Melayu Jambi. Tidak saja terkenal dengan hasil buminya yang sangat khas, yang dilatarbelakangi sejarah Jambi sendiri.
 
Untuk itu supaya budaya Melayu itu tidak mengalami pudar, orang Melayu harus memahami komprehensif tentang Melayu, Dengan demikian, mempelajari Melayu seharusnya tidak memutus mata rantai perjalanan sejarahnya. Sejarah Melayu telah berlangsung selama berabad-abad. Menelaah dunia Melayu secara komprehensif. Metode pengkajian yang demikian itu juga berlaku dalam budaya. Dalam budaya Melayu terdapat unsur-unsur yang tampak seperti, kesenian, upacara adat, peralatan, busana, kuliner, dan lain sebagainya, dan unsur-unsur yang tidak tampak, seperti bahasa, keyakinan, dan pandangan hidup.
 
 
 
...
Ditulis Oleh
Nama : Nining Sani Nurmayanti
Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Syaifuddin Jambi
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Islam 
Jurusan : Ekonomi Syariah
 
 
 
*Isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

KOMENTAR DISQUS :

Top