Senin, 14 Oktober 2019 |
Nasional

Para Pemburu 'Hantu' Gumpalan Minyak Pertamina di Karawang

Senin, 02 September 2019 09:48:28 wib
Petugas membawa karung berisi pasir yang tercemar tumpahan minyak mentah (Oil Spill) di pesisir Pantai Cemarajaya, Karawang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

JAMBIDAILY PERISTIWA - Di atas perahu nelayan di Perairan Karawang, Jawa Barat, lima pria sibuk mengambil limbah minyak mentah yang bocor dari anak perusahaan PT Pertamina (Persero). Mereka berseragam putih, dilengkapi pelampung oranye, helm hingga sarung tangan.

Mereka adalah nelayan yang kini bekerja menjaring limbah minyak mentah. 

Minyak mentah itu menggumpal sebesar kerikil. Permukaan air laut tampak berminyak. Bau limbah menyengat napas.

Waca (43) salah satu warga setempat berlayar menuju lokasi tersebut selama 30 menit. Hari itu, Rabu (21/8), dia sedang tidak bertugas mengambil limbah.

Di lokasi tempat mengambil limbah, Waca menunjukkan bagaimana sulitnya para nelayan membersihkan laut dari minyak mentah yang mengotori Perairan Karawang.

"Tuh, mereka kesulitan, soalnya pada nyebar [limbahnya]. Tergantung arus sama angin, kalau lancar 2 sampai 3 jam selesai, kalau enggak bisa 4 sampai 5 jam," ujar Waca yang mengantarkan CNNIndonesia.com ke lokasi. 

Menurutnya, mereka lebih kesulitan mengambil limbah di siang hari. Di pagi hari, gumpalan limbah lebih mudah diambil karena belum meleleh terkena panas sinar matahari. Karena itu biasanya mereka melaut lebih awal, sejak pukul 05.30 WIB. 

Mereka menggunakan jaring yang terpasang pada tongkat bambu untuk mengambil limbah. Setelah itu, gumpalan minyak dimasukkan ke karung putih yang diletakkan di sebuah ember. Wadah itu menjadi pengukur bobot limbah. Setelah sesuai bobotnya, karung itu diikat rapat dan dipindahkan. Mereka kemudian memasangkan karung kosong kembali dan mengisinya lagi.

Waca menjelaskan setiap hari dalam satu perahu ditargetkan mampu mengumpulkan 80 karung. Bobotnya 15 hingga 20 kilogram tiap karung.

Waca mengatakan pengambilan limbah dengan cara seperti itu cukup berisiko bagi kesehatan kulit.

"Makin ke tengah makin panas, kena matahari kan meleleh. Jadi panas kena kulit," ujarnya. 

Lebih lanjut, Waca mengatakan satu perahu diberi upah Rp1,5 juta sekali jalan. Dari jumlah itu, setiap orang mendapat upah bersih Rp200 ribu. Sisanya, Rp500 ribu digunakan untuk biaya operasional perahu seperti bahan bakar dan kebutuhan lainnya. 

Menurutnya, tidak ada lagi yang bisa dilakukan para nelayan selain mengais rezeki dari mengambil limbah.

Dua perahu berisi pengambil limbah juga tampak kesulitan mengumpulkan gumpalan minyak yang semakin menyebar. 

Berdasarkan catatan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Karawang, dalam sehari ada sekitar 2.000 karung limbah minyak mentah yang terkumpul.

Vice President Relations PHE ONWJ Ifki Sukarya mengatakan insiden bocornya minyak mentah itu bermula saat ada pengeboran sumur reaktivasi YYA-1 pada Jumat, 12 Juli 2019.

 


(ani/pmg)/cnnindonesia.com

KOMENTAR DISQUS :

Top