Sabtu, 23 November 2019 |
Pendidikan & Teknologi

Pengontrol Serbaguna Berbasis Sentuhan Ditemukan

Minggu, 29 Oktober 2017 20:35:56 wib
konsol elastis besutan Unicersitas Purdue, isoft(iSoft)

JAMBIDAILY TEKNOLOGI - Bermain game tanpa konsol dan joystick, mengetik tanpa keyboard, atau menyalakan lampu melalui sentuhan, saat ini mungkin sering dianggap guyonan. Namun guyonan tersebut dijadikan nyata oleh tim periset asal Universitas Purdue, Amerika Serikat.

Universitas teknik yang terletak di negara bagian Indiana tersebut berhasil mengembangkan sensor dinamis serbaguna yang dapat mendukung semua perangkat berbasis sentuhan/touch screen. Perangkat tersebut diberi nama iSoft.

Tidak seperti konsol pada umumnya yang butuh rangkaian elektronik pada pelatnya, iSoft hanya terdiri dari kabel sensor dengan sensitivitas tinggi. Rangkaian ini kemudian disambungkan ke pinggiran pelat elastis berbahan dasar karbon polimer.

Karbon sendiri merupakan bahan yang sering digunakan untuk perangkat elektronik maupun sensor, karena mampu mendeteksi dan menghantarkan panas dengan baik.

Itulah sebabnya mengapa produk ini lebih dinamis dan elastis dibandingkan dengan sensor lain yang pernah diciptakan, namun tetap bisa bekerja dengan baik.

"Perangkat ini menyediakan kemampuan untuk membuat dan menyesuaikan sensor lembut," ujar Karthik Ramani, Direktur Laboratorium Desain Universitas Purdue dilansir KompasTekno dari Engadget, Minggu (29/10/2017).

"Bahkan, Anda dapat memodifikasi objek apa pun dengannya, termasuk objek dengan bentuk kompleks." imbuh Ramani.

Dari video di akun YouTube resmi Universitas Purdue, sensor ini dapat digunakan untuk segala keperluan. Mulai dari mengontrol pemutaran musik, mematikan dan menghidupkan lampu, hingga mengganti channel YouTube.

Pengguna bisa menempelkan iSoft di media mana pun, baik itu jaket, meja, bantal, bahkan botol minum. Sensor akan bekerja secara otomatis sesuai dengan perintah.

Ramani juga menambahkan bahwa teknologi yang mereka temukan dapat menjadi opsi pengembangan konsol serbaguna dengan biaya produksi rendah. Saat ini, pihak universitas Purdue sedang dalam proses mengajukan hak paten untuk penemuannya ini.

 


(Kompas.com)

KOMENTAR DISQUS :

Top