Minggu, 18 Agustus 2019 |
Pendidikan & Teknologi

Peringatan Ilmuwan: Berhenti Membuat Kerusakan di Muka Bumi!

Senin, 12 Agustus 2019 10:07:19 wib
Hutan Indonesia dibabat untuk perkebunan kelapa sawit. (EPA)

JAMBIDAILY TEKNOLOGI - Para ilmuwan mengecam keras kerusakan terhadap permukaan Bumi. Kegiatan manusia menyebabkan perusakan tanah, perluasan padang pasir, pembabatan hutan, terusirnya kehidupan alam liar dan pengurasan lahan gambut, kata mereka.

Tanah telah diubah dari sebuah aset untuk mengatasi perubahan iklim menjadi sumber utama karbon.

Para ilmuwan mengatakan perusakan tanah harus dihentikan untuk menghindari bencana pemanasan iklim.

Tanah belum diolah yang tertutup tumbuhan melindungi kita dari pemanasan berlebihan karena tanaman menyerap gas pemanas CO2 dari udara dan mengolahnya di tanah.

Tetapi pertemuan para ilmuwan di Jenewa, Swiss, akan mengatakan pertanian dan penanaman pohon yang kita lakukan sering kali meningkatkan emisi karbon dioksida.

Sekitar seperempat dan sepertiga emisi gas rumah kaca sekarang diperkirakan berasal dari pengolahan lahan.

Ilmuwan akan memperingatkan terjadinya perang memperebutkan lahan di antara berbagai kepentingan yang bersaing: bahan bakar bio, materi tanaman untuk membuat plastik dan serat, kayu, kehidupan liar, kertas dan bubuknya, dan makanan untuk penduduk yang jumlahnya terus bertambah.

Laporan mereka akan menyatakan kita perlu mengambil keputusan berat terkait dengan bagaimana kita menggunakan lahan.

Dan dokumen itu akan kembali memperingatkan bahwa kebutuhan kita akan daging merah menekan lahan untuk menghasilkan makanan ternak, di samping menyumbangkan setengah emisi metana dunia gas rumah kaca lainnya.

 

Laporan IPCC
Dokumen ini dijadwalkan rampung pada minggu ini oleh para ilmuwan dan pejabat pemerintah yang merupakan anggota Panel Antar pemerintah PBB terkait dengan Perubahan Iklim (IPCC).

Inti laporan ini adalah sebuah paradoks bahwa lahan dapat menjadi sumber emisi CO2 atau sebagai penghilang emisi CO2.

Pertanyaannya terkait kepada bagaimana kita menggunakannya.

 

Mengapa dipermasalahkan?
Ambil contoh lahan besar tanah gambut dataran rendah atau fenlands di Inggris bagian timur.

Dalam keadaan alamiahnya, tanah tersebut berair. Tetapi selama berabad-abad, 99% telah dikuras untuk pertanian. Tanaman pangan tidak dapat tumbuh di tanah gambut.

Sisanya, 1% Wicken Fen, adalah lahan yang dimiliki yayasan National Trust, dimana tanah hitam gembur masih setebal empat meter.

Tanah pertanian di sekitarnya, yang telah dikuras, lebih rendah ketebalannya. Gambut telah berkurang menjadi hanya setebal 50 cm.

Sekitar 1-2% tanah pertanian yang dikuras menghilang setiap tahun.

Hal ini terjadi karena ketika gambut terpapar udara, tanah tersebut akan melakukan oksidasi dan menghasilkan CO2.

Inilah masalahnya: lahan tanah gambut adalah juga merupakan lahan pangan paling produktif di Inggris karenanya dikenal sebagai Emas Hitam.

Para petani ingin menanam di sana, bukannya mengairinya untuk menyimpan karbon.

Seorang petani muda, Charles Shropshire, mengatakan kepada saya bahwa dirinya mengkhawatirkan hilangnya karbon di lahannya.

Dia mengetahui bahwa perubahan iklim yang sudah terjadi telah mengganggu pola tanam.

Sekarang dirinya menerapkan apa yang dinamakan teknik "pertanian regeneratif" seperti pemaculan dangkal, menjaga lahan tertutup tanaman saat musim dingin, dan penggunaan pengairan lewat tetesan.

Dia bersedia melakukan percobaan dengan ide National Trust, seperti membasahi kembali tanah saat musim dingin, atau menanam lumut sphagnum untuk perawatan kecantikan atau keranjang yang digantung.

Tetapi banyak petani lain tidak ingin mengubah cara menjalankan bisnis.

Anda akan menemukan cerita sejenis sementara petani berusaha meningkatkan produksi pangan yang orang inginkan, yang dapat membawa pengaruh negatif pada tanah dalam jangka panjang.

Sebagian masalah timbul karena peningkatan konsumsi daging dan minyak dari tumbuhan sebanyak dua kali lipat sejak tahun 1960-an.

 

Dapatkah kita mengatasinya?
Para ilmuwan mengatakan masalahnya sangat besar.

Mereka mengakui akan sulit untuk mengatasinya, terutama karena pertanian gaya konservatif dilakukan setengah miliar petani dan perlu dilakukan pembelajaran agar mereka bertani dengan cara yang berbeda.

Mereka meminta kita untuk:

Melindungi sebanyak mungkin hutan alamiah, terutama di daerah tropis
Mengubah pola makan dengan memakan lebih sedikit daging merah dan lebih banyak sayuran
Melindungi lahan gambut dan merestorasinya sebanyak mungkin
Menanam tanaman dan pohon untuk menghasilkan energi, tetapi hanya dalam skala lokal yang kecil
Melakukan lebih banyak perkebunan-pertanian, di mana tanaman pangan dicampur dengan pohon
Perbaiki keragaman pangan

 

Apakah solusi disepakati?
Masih terjadi sejumlah perdebatan. Salah satu kemungkinannya adalah memusatkan pertanian intensif pada lahan sekecil mungkin, agar lebih banyak tanah alamiah yang menyerap CO2.

Pilihan lain adalah bertani dengan cara yang kurang intensif dan lebih ramah iklim - tetapi ini berarti akan lebih banyak tanah alamiah yang digunakan.

Yang jelas laporan ini akan memperingatkan para petani termiskin yang akan paling terkena pengaruh negatif pemanasan global dan mereka akan lebih tidak mampu menggunakan teknologi baru yang dapat mengubah cara bertani.

Kelly Levin, dari kelompok pemikir lingkungan Amerika, WRI, mengatakan kepada BBC bahwa laporan itu harus mendesak para politikus untuk memotong emisi bahan bakar fosil.

Dia mengatakan, "Jika kita sekarang berpandangan bahwa masalah iklim menyulitkan, coba Anda pikirkan seberapa lebih sulitnya tidak memiliki tanah yang menjadi penyerap besar-besaran emisi karbon dioksida."

 

Apakah akan mengubah kebijakan?
Profesor John Boardman, dari Oxford Environmental Change Institute, mengatakan kepada kami bahwa perubahan iklim sudah menyebabkan erosi tanah di Inggris selatan karena hujan yang semakin lebat.

Tetapi dia memperingatkan, "Kita seharusnya menyadari bahwa bagi sebagian besar bagian dunia, hujan atau panas yang lebih banyak atau lebih sedikit tidaklah relevan jika dibandingkan dengan tekanan manusia.

"(Di beberapa tempat) jika kita mengubah penggunaan lahan dari gandum musim dingin ke jagung, kita menciptakan risiko erosi meningkat sampai tiga kalinya."

Profesor Jane Rickson dari Cranfield University, Inggris, mengatakan, "Peningkatan suhu dan curah hujan yang lebih tinggi akan memicu erosi tanah, hilangnya unsur organik, kehilangan keanekaragaman alam dan longsor ... yang sebagian besar tidak bisa kembali ke keadaan semula.

"Saya berharap laporan terbaru IPCC akan cukup tegas untuk mendorong para politikus dan pengelola lahan guna menerapkan kebijakan dan praktik yang dapat mengembalikan, mengurangi dan menyesuaikan diri dengan krisis iklim," katanya.


(ita/ita)/detik.com

KOMENTAR DISQUS :

Top