Minggu, 18 Agustus 2019 |
Suaro Wargo

Silvi Adila: Mengenal Lebih dalam Sejarah Masjid Agung 1000 Tiang Jambi

Sabtu, 19 Mei 2018 06:19:54 wib
Foto: Wikipedia

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Jambi memiliki sejarah yang cukup banyak dalam perkembangan agama Islam. Salah satunya adalah tempat dimana masyarakat Jambi khusus nya umat Islam memakai tempat ini untuk memenuhi kewajibannya kepada Allah SWT sebagai seorang muslim. Karena keindahan arsitektur bangunan yang unik membuat siapapun yang datang ke Kota Jambi wajib untuk mengunjungi tempat ini.

Masjid Agung Al-Falah Jambi atau yang lebih sering dikenal sebagai Masjid Agung 1000 tiang. Fakta dari masjid yang terletak di Jalan Sultan Thaha No.60 Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi ini adalah masjid ini hanya memiliki 232 tiang dan yang dilapisi tembaga hanya 40 tiang. Masjid ini juga masuk ke daftar salah satu masjid terbesar yang ada di Indonesia. Masjid ini berdiri pada lahan 2,7 hektar dan memiliki luas bangunan 6.400 m2 dan mampu untuk menampung 10.000 jamah sekaligus. Masjid Agung 1000 tiang ini dibangun pada tahun 1971 dan selesai pada tahun 1980.
 
Menurut sejarahnya, masjid yang diresmikan Presiden Soeharto pada 29 Desember 1980 ini ditegakkan diatas tanah yang dulunya adalah tempat Kerajaan Melayu Jambi. Namun, pada tahun 1885 Belanda menguasai tempat ini karena Sultan Thaha Syaifudin membatalkan semua perjanjian yang dibuat Belanda dengan mendiang ayahnya dan membuat Belanda sangat marah sehingga Belanda menjadikan lokasi ini sebagai benteng Belanda. 

Tetapi sebelum Belanda menyerang, Kesultanan Jambi terlebih dahulu menyerang Belanda dan Belanda langsung melakukan serangan balasan lalu berhasil merebut tanah Kesultanan Jambi tetapi Belanda melakukan serangan balik dan menghanguskan komplek Istana Tanah Pilih. Pada tahun 1906 lokasi bekas Istana Sultan tersebut dijadikan asrama tentara Belanda dan pada tahun 1970an lokasi tersebut masih digunakan sebagai asrama TNI di Jambi.

Para tokoh ulama diantaranya M.O. Bafaddal, H.Hanafi, Nurdin Hamzah dan Nur Admadibrata yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur di Jambi sepakat untuk membangun masjid di lokasi tersebut dan memindahkan asrama TNI. Masjid ini dibangun lengkap dengan kubah besar dan menara yang menjulang dengan material beton bertulang. Masjid ini memiliki arsitektur mirip dengan tiang Masjid Agung di kota Roma, Italia yang dibangun sebelum Masjid Agung Al-Falah di Jambi. 

Tiang-tiang di Masjid Al-Falah ini dibagi menjadi dua bentuk, bentuk pertama merupakan tiang langsing berwarna putih dengan tiga sulur keatas yang menyangga sekeliling atap Masjid sebelah luar dan bentuk tiang kedua berupa tiang silinder berbalut tembaga yang menopang struktur kubah di area tengah bangunan masjid. 

Dalam bahasa Indonesia Al-Falah diartikan menjadi Kemenangan yang memiliki makna kebebasan tanpa kurungan, yang sejalan dengan desain Masjid yang tanpa pintu dan jendela dengan konsep terbuka. Bagian dalam Kubah masjid di hias dngan ornamen garis simetris dan ring besar di bawah kubah dihias dengan lukisan kaligrafi Al-Qur’an berwarna emas.

Dari berdirinya Masjid ini hingga sekarang bentuk awalnya tetap dipertahankan dan jika ada renovasi hanya penambahan ukiran pada mihrab Imam dan mengganti pembungkus tiang pada tahun 2008.

 


...
Ditulis Oleh
Nama : Silvi Adila Harditya
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Jurusan Ekonomi Syari'ah
Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi

 


*isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

KOMENTAR DISQUS :

Top