Rabu, 23 Oktober 2019 |
Nasional

Suku Anak Dalam 'Dagangan Paling Seksi' ini Kata Kementerian LHK, Bupati dan Pemberi Dana CSR

Senin, 17 Juni 2019 11:57:48 wib
Foto: Jambidaily.com/HendryNoesae

JAMBIDAILY NASIONAL - Permasalahan kehidupan Suku Anak Dalam (SAD) di Provinsi Jambi, bukanlah cerita baru namun penyelesaiannya terus 'seakan-akan' dibuat baru. Sudah selayaknya dapat dirancang secara bersama, berkelanjutan dan komitmen yang kuat dari Pemerintah baik Kabupaten, Provinsi bahkan Pusat dengan limit target waktu. Jika tanpa adanya hal tersebut tentu SAD seperti 'dagangan paling seksi'.

Pada kesempatan ini, Perwakilan dari PT SAL, M. Hadi Sugeng saat disinggung apa target dari pengelontoran dana CSR (Corporate Social Responsibility) untuk Kemitraan Pembangunan Sosial SAD menyasar tiga bidang.

"Fokus kami dari CSR ini menyasar tiga bidang yaitu Pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Untuk pendidikan kami punya 11 sekolah dimana 2 sekolah adalah kerjasama dengan Taman Nasional Bukit Dua Belas, juga mengalokasikan 16 guru dimana 1 guru dari Suku Anak Dalam. Saya lihat juga semangat dan prestasinya tidak kalah, jadi tinggal kedepannya adalah peluang, kesempatan kita buka. Kemudian dari 280 beasiswa, 40 nya untuk SAD dan dari 40 ada 3 orang yang sudah kami kuliahkan di Yogyakarta," Jelas M. Hadi Sugeng.

"Lalu dari Kesehatan, yang sudah kami lakukan adalah fokus pada dua klinik dan satu mobil yang kelilingi untuk teman-teman SAD, kami juga rutin membina 5 posyandu di 5 tumenggung dan air bersih di 3 tumenggung, kemudian juga jadwal kunjungan rutin untuk di 14 tumenggung, untuk kesehatan responsnya bagus dari teman-teman SAD. Terakhir dibidang ekonomi, kami ada dua kegiatan, bantuan sembako ke 301 kepala keluarga target kami sampai terbentuk forum ini, dan nanti dikelola oleh forum, juga ada sifatnya ekonomi kreatif seperti budidaya labi-labi, ayam potong serta penanaman singkong, memang lahannya masih punya kami tetapi mereka yang mengelola. Sesuai keinginan forum nanti ada lahan tersendiri maka kami akan berkontibusi besar disana," Beber M. Hadi Sugeng, saat konferensi pers usai pembukaan Forum Kemitraan Pembangunan Sosial Suku Anak Dalam (SAD) di V Hotel, kota Jambi 16 s.d 18 Juni 2019.

Selain itu, kata hadi Sugeng, PT SAL juga bekerjasama dengan Taman Nasional Bukit Dua Belas yang sifatnya jangka pendek dan menengah, berupa pelatihan dan budidaya jerenang "Saya mewakili PT SAL sangat mengapresiasi forum ini, saya yakin forum ini kedepan bisa berkontribusi karena melibatkan semua pihak. Kami juga berharap Bupati Merangin dan Sarolangun tidak bosan-bosannya untuk didepan, dengan adanya kekuatan daerah disitu tidak ada kekuatan lain yang bisa menggoyang mengenai SAD ini, sehingga lebih maju dan kearifan lokal terjaga," Pungkas M. Hadi Sugeng.

Kemudian, Zukri Saad (Sinarmas Group), menegaskan bahwa perusahaan punya komitmen penuh terhadap kesehatan dan Ekonomi berupa sosial bisnis bagi SAD dari CSR.

"Dari sudut kesehatan, 5 kilometer dari lahan itu bebas bibir sumbing, bebas hernia dan katarak, itu komitmen penuh perusahaan. Berkaitan dengan ekonomi kami sedang merancang yang disebut sosial bisnis, itu adalah penerapan CSR paling mutakhir dan paling tinggi. Kita ingin sinergi dengan masyarakat dan SAD punya kebun bersama, antara PT tempat kami bekerja untuk SAD, forum ini kami dukung penuh dan harapan sinergi bersama perusahaan yang ada disana, terukur, terarah dan jelas. Forum ini sinergis, kalau bicara sampai kapan,? iya mari kita bicara skenario 10 tahun, 5 tahun dan sebagainya, mungkin perkiraan kami sebelum 15 tahun isu SAD sudah ditentaskan, kalau bisa lebih cepat. Hadirnya bupati malam ini menunjukkan komitmen pemerintah. Media jadi kontrolnya lah, kalau klewer sikat aja. Pak Bupati kontrol kita tercepat itu saat media online," Jelas Zukri Saad.

Disamping tanggapan diatas, Kabupaten Merangin kata Al Haris sudah memberikan kartu sehat termasuk untuk pendidikan telah diangkat khusus guru SAD.

"Kita Merangin sudah memberikan kartu sehat untuk mereka, rumah sakit kita gratis untuk mereka berobat, dan punya zaal khusus untuk SAD dan tidak tergabung dengan pasien lain. Sakit apapun boleh dan tidak dipungut biaya apapun. Lalu pendidikan, sudah banyak di sekolah bahkan saya juga mengangkat guru khusus SAD,"

Disinggung tentang masih terlihatnya SAD yang meminta-minta dijalan atau mengemis "Saya akui itu, di daerah dalam masih belum terbuka pengetahuan. Tapi ada juga mereka orang baru bukan warga temenggung di lokasi itu, mungkin pendatang baru dari wilayah lain. Mereka melangun tidak ada tempat tinggal akhirnya minta-minta di jalan, artinya dia bukanlah warga yang disana. Ini tetap kita tertibkan, saya udah mengajukan meminta izin hutan lindung konservasi bagi SAD ini sejak tahun 2015. Kita adakan wilayah khusus dengan lahan yang cukup untuk rumah dan lahan, kita bimbing untuk sektor pertanian, namun kita masih menunggu sehingga belum terealisasi di kabupaten Merangin. Masalah ini sama kami dengan Sarolangun, kalau yang kita ajukan itu jadi maka saya yakin tidak ada lagi yang minta-minta di jalan," Imbuh Al Haris

Menanggapi hal itu, dan berapa lama target pemerintah dalam mewujudkan pembangunan komunitas sosial SAD, Ir Dyah Murtiningsih MHum, Direktur Direktorat Kawasan Konservasi Dirjend KSDA dan Ekosistem Kementerian LHK-RI, menuturkan peran serta semua pihak sangat dibutuhkan.

"Ada beberapa pihak disini yang mempunyai sumber daya, baik sumber daya tenaga, pemikiran, juga dana untuk sama-sama membangun suku anak dalam ini. Kalau masing-masing sudah ada niat yang baik dan sama-sama membangun, sinergi dan komitmen yang kuat mengapa tidak,? kita harus tetap bersama-sama menjaga semangat ini agar tujuan bisa tercapai," Jelas Dyah Murtiningsih, menjawab jambidaily.com (Minggu, 16/06/2019).

"Lantas kita punya apa 15 tahun kedepan, maka kita harus mewujudkan bersama-sama apa impian teman-teman SAD juga impian kita untuk membantu mereka lebih baik lagi," Pungkas Dyah Murtiningsih.

 

 

(Hendry Noesae)

 

 


Berita Terkait:
Prakarsa Madani Institute Gelar Workshop Forum Kemitraan Pembangunan Sosial SAD

KOMENTAR DISQUS :

Top