Rabu, 20 November 2019 |
Nasional

Tak Ada Penurunan Daya Beli Tapi Pergeseran Belanja

Selasa, 12 Desember 2017 12:31:59 wib
Foto: Hendra Kusuma

JAMBIDAILY NASIONAL - Daya beli masyarakat Indonesia tidak bisa dilihat dari tingkat pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Ini yang selama ini menimbulkan banyak perdebatan di tengah publik.

"Saya ingin katakan soal konsumsi rumah tangga, banyak yang bilang terjadi penurunan daya beli, saya katakan daya beli masyarakat itu berbeda dengan pengeluaran. Perlu kita luruskan apa itu daya beli dan apa itu pengeluaran," kata Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Adriyanto di Jeep Station Indonesia, Bogor, Selasa (12/12/2017).

Angka konsumsi rumah tangga Indonesia hingga kuartal III-2017 ini menjadi yang paling stabil di level 4,9%. Meskipun pada kuartal I sebesar 4,94%, kuartal II sebesar 4,95%, dan kuartal III ke level 4,93%.

"Konsumsi itu masih bagus bahkan stabil dibandingkan 2015 dari kuartal I-kuartal IV awalnya naik terus turun, di 2017 lebih stabil karena masih di kisaran 4,9%, masalahnya bukan pada daya beli tapi pengeluaran dari sisi rumah tangga, kalau dilihat komponen konsumsi, seperti pertumbuhan resto dan hotel alami kenaikan, transport juga kenaikan," tambah dia.

Adriyanto menyebutkan, dari data yang ada tren belanja masyarakat mengalami perubahan dari yang sifatnya pokok, menjadi lebih kepada yang non pokok seperti kesehatan, transportasi, pariwisata dan sebagainya.

"Jadi banyak masyarakat kita lebih banyak menabung dibanding konsumsi, ini yang paling pas kenapa ada lambatnya konsumsi, jadi memang ada perubahan. Di lihat simpanan masyarakat hampir 11%, masyarakat memang kelihatannya lebih cenderung menabung dibanding belanja," papar Adriyanto.

Kendati terjadi pola konsumsi masyarakat, Adriyanto menegaskan, daya beli masyarakat Indonesia tidak mengalami penurunan. Sebab, Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang tumbuh menandakan adanya pergerakan transaksi.

"Apakah daya belinya turun? Enggak, karena kalau dilihat sisi PPh orang pribadi itu tumbuh signifikan, jadi variabelnya mendorong karena tax amnesty, jadi sedikit cerita tax amnesty kalau dilihat tax compliance itu 63%, dan tumbuh menjadi 72% orang sampaikan SPT, PPN juga tumbuh artinya masyarakat punya uang, secara pengeluaran masyarakat bawah masih tumbuh, tingkat belanjanya masih ada salah satunya dibantu bansos," jelasnya. (mkj/mkj)/

 

(detik.com)

KOMENTAR DISQUS :

Top