Jumat, 06 Desember 2019 |
Wisata & Budaya

Tak (Tik) Senja Menjemput: Upaya Dekonstruksi (Tubuh) Puisi

Jumat, 22 November 2019 23:04:07 wib

JAMBIDAILY SENI, Budaya - Puisi adalah prosa bebas yang memiliki kekayaan bentuk dan ragam dalam penyajiannya serta memiliki multi tafsir saat ditampilkan ditengah-tengah masyarakat. Salah satu metode yang belakangan ini acap digunakan dalam penampilan puisi pertunjukan adalah dekonstruksi.

Agaknya strategi ini yang digunakan dalam pertunjukan teater yang berjudul Tak (Tik) Senja Menjemput, karya dan sutradara Hendry Nursal dari Teater Tonggak-Jambi, pada 16-17 November 2019 di Gedung Teater Arena, Taman Budaya Jambi.

Pertunjukan yang berlangsung selama dua hari ini dibangun dalam suasana absurditas dengan membalikan pakem pola gerak konvensional serta mengajak penonton untuk melacak unsur aporia (makna paradoks dan ironi) dalam pertunjukan yang dimainkan sepuluh aktor muda ini. 

Pertunjukan yang berlangsung sekitar lima puluh menit ini mengisahkan tentang perjalanan batin sang sutradara, Hendry Nursal, yang sehari-harinya berprofesi sebagai jurnalis dan disampaikan melalui soliliokui puisi yang naratif oleh kesepuluh aktor.

Secara bergantian, para aktor menyampaikan berbagai kepedihan, kesenjangan sosial, ironi kehidupan maupun harapan keadilan dengan tekhnik distilasi serta dikombinasi dengan  eksplorasi gerak tubuh yang gestikulatif nan simbolik.

Kuat dugaan bahwa penggunaan dekonstruksi dalam pertunjukan ini sengaja dilakukan dengan tujuan untuk menyamarkan aksi kejahatan yang dilakukan seseorang, bisa jadi juga bercerita peristiwa sosial yang menyangkut moral seseorang atau malahan sebuah institusi.

“Dalam pertunjukan ini saya ingin menyampaikan bahwa setiap orang akan sampai pada masanya, akan sampai bertemu senjanya. Artinya, setiap orang harus mampu belajar dari kesalahan terdahulu yang telah dibuat dan kelak bertemu ‘senja’ dalam keadaan baik alias khusnul khotimah,” ujar Hendri usai pertunjukan.

Sayangnya, eksplorasi gestikulatif tubuh para aktor belum secara total ditampilkan diatas panggung. Pengolahan tubuh dalam bentuk mimik, gesture dan pola gruping masih terkesan ragu sehingga narasi pertunjukan menjadi terpotong-potong dan kehilangan efek  dramatis.

Keraguan ini akhirnya merembet pula ke distilasi puisi yang disampaikan. Para aktor terkesan buru-buru dalam bersolilokui dan seakan ingin cepat menyelesaikan kalimat puitik sehingga daya pukau kalimat dalam pertunjukan ini kerap kehilangan magisnya baik dari sisi semantik maupun semiotik.

Hal ini bisa dimaklumi sebab para aktor yang memainkannya masih tergolong muda dan belum memiliki jam terbang yang mumpuni dalam dunia pertunjukan.

Disisi lain, keberanian Hendry Nursal dalam melakukan dekonstruksi patut diapresiasi dan diacungi jempol sebagai sebuah proses kreatifnya sebagai seorang sutradara baru di Provinsi Jambi.

Selain itu, kehadiran Letkol M Arry Yudhistira, Dandim 0419/Tanjab diatas panggung sebagai aktor dalam pertunjukan ini menjadi hal yang unik, malah bisa jadi ini kali pertama seorang tentara aktif berakting diatas panggung kesenian Jambi.

Kemampuan Hendry Nursal ‘membujuk’ dandim bermain drama adalah sebuah tak (tik) cerdas sekaligus upaya memasyarakatkan teater dan menteaterkan masyarakat.  (*)

 

Ditulis Oleh: Putra Agung

KOMENTAR DISQUS :

Top