Minggu, 18 Agustus 2019 |
Wisata & Budaya

Teater AiR Bersidang di 'Sebutir Kepala dan Seekor Kucing' Pada Temu Teater Se-Sumatera

Kamis, 25 Juli 2019 08:14:01 wib

JAMBIDAILY SENI, Budaya - Temu Teater Se-Sumatera 2-4 Agustus 2019 yang akan berlangsung di Jambi, tentunya juga menghadirkan komunitas tuan rumah. Salah satunya Teater Art in Revolt (AiR) menyajikan produksi ke-39 berjudul 'Sebutir Kepala dan Seekor Kucing' Cerpen dari Ahmadun Yosi Herfanda.

Ada 18 Aktor dan Aktris yang akan menunjukan aksinya dari ramuan sang sutradara EM Yogiswara, alumnus PBS-FKIP Universitas Jambi 1992 ini sudah malang melintang di dunia teater dan sajak-sajaknya terangkum di antologi puisi tunggal, antara lain Hidup (1991), Kau Lahir (1992), Perempuanku (1992), Gaung (1994), Soco (Bentang Budaya Yogyakarta, 2001), Galur Tulang (Jambi Heritage dan The SOMT, 2012), Ranting Matahari (Buku Pop, 2013), dan Sayap Tulang(2017). Mendirikan Teater Art in Revolt (AiR). 

Kerap menyutradarai pergelaran teater. Naskah drama yang pernah ditulis diantaranya Bubrah, Dari Sunyi ke Sunyi, Adin Pekak Serumah, Naskah Drama Sejarah Perjuuangan Jambi (Hero of Jambi); “Sultan Thaha Syaifuddin” dan “Raden Mattaher” terangkum dalam buku drama Pancang Negeri (Buku Pop, 2014). Sesekali memberikan materi tentang sastra di sekolah serta juri lomba cipta puisi, baca puisi, dan musikalisasi puisi dalam Provinsi Jambi. 

Pernah mengajar di FKIP PBS Universitas Batanghari Jambi (2009-2014). Sejak 2015-sekarang diberi kesempatan mengajar di PBS FKIP Unja, sembari tetap konsisten bekerja sebagai redaktur di Harian Pagi Jambi Ekspres (Jawa Pos Group).


Sekelumit Sebutir Kepala dan Seekor Kucing

Sidang darurat yang dihadiri para Budayawan, Sastrawan, dan Seniman. Yang memutuskan agar semua peserta sidang menanggalkan kepala masing-masing. Sidang yang semakin panas dan tak terkendalikan karena mereka harus bersidang tanpa kepala, yang membuat semua peserta sidang merasa semakin tidak nyaman karena masing-masing peserta sidang kuat akan argumentasi dan pendirian yang tidak terbentahkan. 

Bersidang tanpa kepala membuat mereka semakin panas, padahal waktu mereka bersidang hanya 1 jam. Jika tidak, makam seorang penyair besar yang terlanjur dimitoskan akan segera dibongkar dan diganti dengan mayat seorang anggota keluarga kepala desa.

Karena peserta sidang masih tidak percaya akan apa yang disampaikan ketua sidang. Sampai akhirnya ketua sidang memutuskan untuk menanggalkan kepalanya terlebih dahulu.
Sidang menjadi-jadi dan tidak terkendalikan karena peserta sidang merasa kebingungan.

Bagaimana kisah dan situasi yang terjadi,? Saksikan Teater AiR dalam Temu Teater Se-Sumatera di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi, untuk waktu/jam pergelaran akan diinformasikan berikutnya.

 

 

(Hendry Noesae)

 

 

 

Berita Terkait:

KOMENTAR DISQUS :

Top