Selasa, 24 September 2019 |
Wisata & Budaya

Tiga Tokoh Seni ini akan Mendapat Penghargaan di 'Malam Apresiasi Seni Melayu Jambi'

Jumat, 04 Januari 2019 20:42:45 wib

JAMBIDAILY SENI, Budaya - Pada agenda rangkaian kegiatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-62 tahun 2019, yaitu Malam Apresiasi Seni Melayu Jambi, Senin (07/01/2019) malam yang akan digelar di Ratu Convention Center (RCC) Kota Jambi.

Pada perhelatan seni dan budaya bertajuk "Kecik Sakti Gedang Betuah" tersebut selain apresiasi juga akan ada penyerahan penghargaan dari Gubernur Jambi untuk tokoh seni budaya Jambi.

Didin Sirojudin Ssn, kepala UPTD Taman Budaya Jambi (TBJ) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, menuturkan bahwa ada tiga tokoh penggiat seni, masing-masing dari Tari, Musik dan Sastra. "Ada tiga tokoh, yaitu Nuraini dari Kabupaten Merangin penggiat Seni Tari, Masyukur Syafe'i dari Kabupaten Bungo penggiat Seni Musik dan Almarhum Dimas Arika Mihardja dari Kota Jambi penggiat Sastra," Jelas Didin, kepada jambidaily.com (Jum'at, 04/01/2019).

Dari penelusuran jambidaily.com, berikut Tiga Tokoh yang akan mendapat penghargaan dari Gubernur Jambi

 

Hj. Nuraini
Anastasia Wiwik Swastiwi dalam artikelnya dilaman kebudayaan.kemdikbud.go.id, bertajuk "Hj. Nuraini: Mutiara Seni dari Kabupaten Merangin Jambi" (diakses, pukul: 20.33 wib/Jum'at, 04/01/2019)

Hj. Nuraini yang saat ini mengetuai sebuah sanggar seni bernama Sanggar Serai Serumpun Merangin – Jambi mulai berkesenian sejak tahun 1944. Saat berumur 5 tahun pernah berlatih tari-tari Jepang, seperti tari anak PO PO HA TO PO TARI YU YA KEIKO MINNADENA KYO KUTA DAMIKAI di Payakumbuh. Tahun 1952 mengadakan pertunjukan dari SKPI Payakumbuh pada acara hiburan malam gembira selama tiga malam di STP Payakumbuh dalam rangka pengumpulan dana untuk sekolah pada tahun 1958 mengikuti pertunjukan sandiwara di desa Seberang Alit Payakumbuh yang berperan sebagai ibu pada cerita Bundo Kandung. Beliau juga sebagai pelatih tari-tari yang tampil pada pertunjukan tersebut seperti tari paying-tari galuk-tari piring-tari selendang dan lain-lain.

Pada tahun 1960, Ny Nuraini putus sekolah karena daerah minang terjadi pemberontakan PRRI dan untuk menjaga keamanan keluarga maka diputuskan menikah dengan ALri (KKO) Surabaya namun terlibat oleh PRRI.Pada tahun 1961, semua anggota ABRI, ALRI, AURI yang di Sumatera Barat semua dipanggil dan diberhentikan. Pada tahun 1962, Ny. Nuraini merantau ke Bangko Jambi dan bertugas sebagai guru honor di SD No. 13/VI Kampung Tengah Perentak Pangkalan Jambi. Saat itu, karena telah kebiasaan berkesenian maka mereka lebih melatih tari-tari Minang dan kerap kali dipanggil untuk hiburan ke ibu kota kecamatan Sungai Manau.

Pada tahun 1968, SK PNS Ny.Nuraini keluar dan sejak itu pula beliau memantapkan hati di Perentak.Meskipun orang tuanya tidak mengizinkan lagi untuk bertugas di Perentak. Sebab Perentak termasuk desa tertinggal dan hubungan ke Kerinci memerlukan waktu 2 hari perjalanan.Sedangkan perjalanan ke Bangko membutuhkan waktu 2 hari untuk berjalan kaki.Pada tanggal 17 Juli 1969.Ny. Nuraini menikah dengan Abdur Rahman Wahab dan dikaruniai 3 orang anak. (Selengkapnya: bisa dibaca disini: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

 

Dimas Arika Mihardja
Dilaman id.wikipedia.org (diakses, pukul: 20.37 wib/Jum'at, 04/01/2019), Dimas Arika Mihardja adalah pseudonim dari nama Sudaryono, lahir di Jogjakarta 3 Juli 1959. Tahun 1985 hijrah ke Jambi menjadi dosen Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Pendidikan dan Ilmu Keguruan Universitas Jambi. Gelar doktornya diraih pada tahun 2002 dengan disertasi Pasemon dalam Wacana Puisi Indonesia (telah dibukukan oleh Kelompok Studi Penulisan, 2003). Sajak-sajaknya terangkum dalam antologi tunggal seperti Sang Guru Sejati (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1991), Malin Kundang (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1993), Upacara Gerimis (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1994), Potret Diri (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri,1997), dan Ketika Jarum Jam Leleh dan Lelah Berdetak (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri danTelanai Printing Graft, 2003). Sajak-sajaknya juga dipublikasikan oleh media massa lokal Sumatera: Jambi, Padang, Palembang, Lampung, Riau, dan Medan; media massa di Jawa: Surabaya, Malang, Semarang, Jogja, Bandung, dan Jakarta.

Sejumlah puisinya terhimpun dalam puluhan antologi bersama terbitan pusat dan daerah. Sedang novelnya, Catatan Harian Maya, dimuat secara bersambung di Harian Jambi Independent (2002). Cerpen, esai, dan kritik sastra yang ia tulis tersebar di berbagai media massa koran dan jurnal-jurnal ilmiah. DAM, panggilang akrab Dimas Arika Mihardja kini menetap di Jln. Kapt. Pattimura Kenali Besar, Kotabaru, Jambi.

 

Masyukur Syafe'i
Sementara itu Masyukur Syafe'i, jambidaily.com belum menemukan biograpi virtualnya di jejak digital. 
Namun dalam penjelasan Kepala TBJ, lelaki yang akrab disapa Didin Siroz adalah penggiat seni yang terus menjaga keberadaan Krinok di Kabupaten Bungo. 

"Dia adalah seorang penggiat musik tradisional, yaitu Krinok di Kabupaten Bungo," Ujarnya.

 


(Hendry Noesae)

KOMENTAR DISQUS :

Top