Jumat, 06 Desember 2019 |
Nasional

Warga Rohingya: Kami Ingin Khatam Quran di Aceh

Sabtu, 27 Juni 2015 05:06:51 wib
Seorang anak pengungsi Rohingya sedang membaca Alqur'an di musala komplek pengungsi di Desa Blang Adoe, Aceh Utara (VIVA/Zulkarnaini Muchtar)

JAMBIDAILY NASIONAL-Menjalankan ibadah puasa di negara orang sudah tentu suasananya berbeda seperti di negara sendiri. Tapi setidaknya, kondisi itulah yang tengah dialami para pengungsi Rohingya, yang pada Ramadhan kali ini harus menjalankan ibadah puasa di Aceh.

Pengungsi Rohingya beruntung bisa menjalankan ibadan Ramadhan di Aceh, yang mayoritas warganya adalah muslim. Berbeda dengan suasana puasa Ramadhan warga Rohingya di Myanmar, di mana mayoritas warganya beragama Buddha.

Seperti yang dialami Kefatullah (18), pengungsi Rohingya yang terdampar di laut Aceh. Usai menunaikan salat zuhur berjamaah di musala, dia larut membaca Alquran. Kefatullah ingin mengkhatamkan  Alquran selama menjalankan ibadah puasa di Aceh.

Sebab, suasana ibadah Ramadhan di Aceh begitu terasa sekali. Di siang hari, setiap usai menunaikan salat berjamaah di musala kompleks khusus pengungsi Rohingya di Desa Blang Adoe, Aceh Utara, para pengungsi ramai-ramai membaca Alquran dan sebagian lagi belajar membaca Alquran.

"Saya ingin khatam Quran di Aceh, karena suasana puasa di Aceh berbeda sekali dengan di Myanmar, di sana banyak orang Buddha, di Aceh muslim semuanya, enak beribadah, bebas membaca Alquran, saya senang sekali bisa menjalankan ibadah puasa di Aceh," ujar Kefatullah, kepada VIVA.co.id, saat mengujungi komplek para pengungsi Rohingya, Jumat 26 Juni 2015.

Di malam hari, Kefatullah mengaku para pengungsi Rohingya ikut tadarus membaca Alquran usai salat tarawih. Layaknya kebiasaan warga Aceh yang selama puasa juga bertadarus hingga menjelang waktu sahur.

Hampir seluruh surau dan masjid memeriahkan bulan Ramadhan ini dengan tadarus setiap malam usai shalat tarawih. "Suasana yang seperti ini tidak ada di Rohingya, berbeda sekali dengan di Aceh," tambah Kefatullah.

Kini, warga Rohingya sudah mulai berlajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Aceh. Mereka belajar sama relawan yang selama ini aktif membimbing para pegungsing Rohingya selama di Kamp pengungsian.

"Sekarang sedang belajar Bahasa Indonesia dan Aceh, sudah sedikit-sedikit. Saya hari ini puasa, abang ada puasa?," tanya Mohammad Rosid, bocah Rohingya umur 8 tahun.

Selama tinggal di pengungsian di Desa Blang Adoe, warga Rohingya tidak bebas keluar dari area komplek seluas 5 hektar itu. Di komplek tersebut mereka sudah disediakan fasilitas kamar mandi yang berjejer rapi, tempat pendidikan anak-anak Rohingya, serta fasilitas olah raga. 

KOMENTAR DISQUS :

Top